Gempa Pidie Jaya, Aceh.

Posted: Desember 8, 2016 in My Story

Subuh pagi tgl 7 Desember 2016 pukul 05.30wib dikejutkan dengan alarm yg berbeda dengan biasanya, yeah alarm Sang Pencipta. Gempa berkekuatan 6,4SR yang berpusat di Pidie Jaya membangunkan seluruh masyarakat Aceh, tak terkecuali di Aceh Besar, rumah saya.

Yang biasanya jarang Sholat, Sholat pada pagi itu, yg biasanya telat sholat Subuh, bahkan mendengarkan kumandang Azan sebelum tiba waktunya Sholat. Sungguh besar kuasa Allah SWT. 

Lelah yg masih terasa mengingat kemarin lusa baru selesainya diksar Komite Relawan Nusantara (KRN) Aceh selama 3 hari dengan sejuta cerita lelah membuatku malas-malasan di pagi cerah ini. 

Seketika, aku melanjutkan aktivitas seperti biasanya sebelum mengetahui apa yg terjadi di wilayah saudara-saudara ku di Pidie Jaya. 

Memikirkan bahwa harus belanja hari ini untuk persiapan piknik esok hari ke destinasi wisata sejarah Benteng Indrapatra dengan teman KRN Aceh.

Mengingat aku hidup di zaman canggihnya tekhnologi membuatku mengikuti arus dunia Maya Dengan rajinnya membuka media sosial. Dan aku mendapatkan berita terkait gempa subuh tadi. Inalillahi wa innailaihi raji’un.. sungguh telah terjadi musibah gempa dasyat yg banyak memakan korban. Percaya tak percaya dengan berita yg ada di sosial media, berita itu dibenarkan dengan melihat berita langsung dari semua stasiun TV.

Grup di Line, WA, serta sosial media lain pun tak mau kalah dengan kericuhan notifikasinya. Namun hanya satu grup yang menarik perhatianku. Yah grup relawan kami, KRN Aceh. Beberapa foto bangunan hancur akibat dampak pagi tadi di upload di grup tsb. Dengan kalimat sederhana sang korel (komandan Relawan) “Ayo yg siap berangkat silahkan prepare”. Yeah kalimat sederhana namun penuh semangat menggelega. 

Byk mereka yg ikut, namun banyak pula yg berhalangan. Apa daya aku masih belum memutuskan, mengingat tubuh ini masih lelah dengan kegiatan lusa kemarin.

Beberapa saat kemudian, telpon pun berdering, ternyata dari korel, entah kenapa begitu senang hati ini melihat panggilan ini, rasanya pikiran sudah lari kemana mana membayangkan bahwa aku ikut menjadi relawan ke Pijay. Eits, kita angkat dulu telponnya, maksud korel menelepon adalah utk menanyakan apa aku bisa ikut ke Pijay atau tidak, karna akan dibutuhkan tenaga medis juga kesana. Yah apalah daya badan yg lelah ini jika dibandingkan dengan kemauan hati dengan penuh semangat. Aku pun memutuskan untuk pergi setelah meminta izin ortu dengan pesan sederhana mereka untuk hati-hati dan jaga diri.

Baik Tim pertama adalah tim evakuasi bergerak tepat pukul 11.00wib dari kantor Rumah Zakat Aceh. Disinilah menjadi awal kisah kami selama di Pidie Jaya.

Tim pertama: saya, bg Izzatul, Icut, Riki, Jalal dan Khadafi.

~to be continue..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s