ab incomplit

Posted: Mei 14, 2014 in Ilmu Kebidanan

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (25%), eklampsia (13%) dan sepsis (15%), hipertensi dalam kehamilan (12%), partus macet (8%), komplikasi abortus tidak aman (13%), dan sebab-sebab lain (8%). Penyebab tidak langsung kematian ibu merupakan akibat dari penyakit yang sudah ada atau penyakit yang timbul sewaktu kehamilan yang berpengaruh terhadap kehamilan misalnya malaria, anemia, Human Immunodefisiensin Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), dan penyakit kardiovaskuler (Sarwono, 2008).

Perdarahan merupakan penyebab kematian ibu terbanyak. Perdarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan, dan pada kehamilan muda sering dikaitkan dengan kejadian abortus (Sarwono, 2008).

Diwilayah Asia Tenggara, World Health Organization (WHO) memperkirakan 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahunnya diantaranya 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Risiko kematian akibat abortus tidak aman di wilayah Asia Tenggara di perkirakan antara satu sampai 250, Negara maju hanya satu dari 3700. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa masalah abortus di Indonesia masih cukup tinggi ( Lusa, 2012).

 

   Tujuan Penulisan

1.      Tujuan Umum

Dapat memperoleh gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan kebidanan abortus inkomplit

 

2.      Tujuan Khusus

  • Dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya diagnosa atau masalah potensial pada kasus abortus inkomplit
  • Dapat melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi pada kasus abortus inkomplit
  • Dapat melaksanakan rencanakan tindakan asuhan kebidanan pada kasus abortus inkomplit
  • Dapat mendokumentasikan hasil asuhan kebidanan pada kasus abortus inkomplit

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Abortus Inkomplit

Pengeluaran jaringan dan bekuan darah dengan riwayat perdarahan pervagina dan kram akan menetap hingga seluruh produk konsepsi dikeluarkan dari uterus. ( Morgan,2009)

Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda di mana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis. (Sarwono, 2009).

Abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal. Pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin 500 gram. (Sarwono, 2012)

 

  1. Etiologi Abortus Inkomplit
  2. Kelainan ovum

Menurut Hertig dkk, dari 1000 abortus spontan,maka 48,9% disebabkan karena ovum yang patologis ; 3,2% disebabkan oleh kelainan letak embrio ;  dan 9,6 % disebabkan plasenta yang abnormal.

  1.  Kelainan Genetalia ibu

Misalnya pada ibu yang menderita :

  • Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis)
  • Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata
  • Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum yang sudah dibuahi,seperti kurangnya progesteron atau estrogen, endometritis,mioma submukosa
  • Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda, mola)
  •  Distorsio uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor plevis
  1. Gangguan sirkulasi plasenta

Pada ibu dengan penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gradivarum, dan anomali plasenta.

  1. Penyakit – penyakit ibu
  • Penyakit infeksi seperti : pneumonia, tifoid, pielitis, rubella.
  • Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol.
  • Diabetes melitus, malnutrisi, avitaminosis, gangguan metabolisme, hipotiroid, dan kekurangan vitamin ACE
  1. Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi
  • Obat-obatan uterotonika
  • Laparotomi
  • Trauma
  • Selaput janin rusak karena instrumen, benda dan obat- obatan

(Mochtar, 2011)

 

  1. Gejala Abortus Inkomplit
  • Amenorea, sakit perut, mules-mules
  • Perdarahan yang bisa sedikit atau banyak, dan biasanya berupa stolsel (darah beku)
  • Sudah ada keluar fetus atau jaringan
  • Pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provakatus yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli,sehingga terjadi infeksi
  • Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru terjadi didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum uteri,serta uterus yang berukuran lebih kecil dari seharusnya.

 

  1. Penanganan Abortus Inkomplit
  • Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), kenali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis).
  • Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai perdarahan hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum. Setelah itu evaluasi peradarahan:

o   Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol400 mg per oral.

o   Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dangan AVM atau D&K (pilih tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian-bagian janin).

  • Bila tak ada tanda-tanda infeksi, beri antibiotika profilaksis (ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg).
  • Bila terjadinya infeksi, beri ampisilin 1 g dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam.
  • Bila terjadi perdarahan hebat dan usia gestasi dibawah 16 minggu, segera lakukan evakuasi dangan AVM.
  • Bila pasien tampak anemik, berikan sulfas ferosus 600 mg per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau transfusi darah (anemia berat). (Sarwono, 2009).

Menurut Sarwono 2012 :

  • Penanganan bila terjadi berdarahan hebat, dianjurkan segera melakukan pengeluaran sisa hasil konsepsi secara manual agar jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan, kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan bisa berhenti.
  • Selanjutnya dilakukan kuretase, tindakan kuretase harus dilakukan secara hati-hati sesuai dengan keadaan umum ibu dan besarnya uterus.
  • Tindakan yang dianjurkan ialah dengan vakum menggunakan kanula dari plastik. Pasca tindakan perlu diberikan uterotonika parenteral ataupun per oral dan antibiotika.

 

  1. Soap Abortus Inkomplit

 

PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. S DENGAN ABORTUS INKOMPLIT

 

Tanggal          : 12 – 3 – 2014

Tempat           : BPS mawar

 

Identitas Istri/Suami

Nama                                 : NY “S” / Tn. “S”

Umur                                : 25 Thn. / 23 Thn.

Suku                                  : Aceh/ Aceh

Agama                               : Islam / Islam

Pendidikan                        : SD / SMA

Pekerjaan                           : IRT / Buruh Harian

Alamat                                          : Lam paya

 

 

Subjektif (S)

Ibu datang ke BPS Mawar dan mengatakan keluar darah bergumpal dari jalan lahir, nyeri perut bagian bawah dan daerah genetalia. Ibu mengatakan ini kehamilan ke 2 dan belum pernah keguguran, anak pertama usia 1 tahun. Ibu mengatakan haid terahirnya tanggal : 8- 12-2013

 

Objektif (O)

TTV :

Td : 110/80 mmHg

N : 79x / i

Rr : 20x / i

T : 36,50 c

VT : serviks terbuka, teraba sebagian jaringan yang tertinggal

Palpasi Leopold I: TFU 3 jari atas sympisis

Pemeriksaan laboratorium Hb: 11 gram %

 

Assesment (A)

Ny. S G2P1A0 dengan abortus inkomplit

 

Planning (P)

  1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan
  2. Memberi dukungan pada ibu
  3. Memberitahu keluarga bahwa akan dirujuk
  4. Melakukan informed consent
  5. Memasang infus
  6. Merujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan
  • Pengeluaran jaringan dan bekuan darah dengan riwayat perdarahan pervagina dan kram akan menetap hingga seluruh produk konsepsi dikeluarkan dari uterus.
  • Gejala abortus inkomplet yaitu amenorhoe, sakit perut dan mules-mules, perdarahan yang biasa sedikit atau banyak, biasanya berupa stolsel (darah beku), sudah ada keluar fetus atau jaringan, pada pemeriksaan dalam didapati serviks terbuka.
  • Abortus pada NY “S” apabila tidak ditangani dengan cepat dapat mengakibatkan perdarahan dan terjadinya infeksi.

 

B.   Saran

1.         Bagi petugas kesehatan

  • Sebagai petugas kesehatan khususnya bidan diharapkan dapat mengetahui tanda dan gejala awal dari abortus inkomplit sehingga dapat dideteksi lebih awal apabila menemukan kasus tersebut serta mendapatkan penanganan selanjutnya ataupun merujuk ketempat pelayanan kesehatan yang lebih memadai.
  • Untuk meningkatkan mutu asuhan kebidanan hendaknya bidan mampu mengikuti perkembangan dan ilmu pengetahuan pada umumnya dalam proses kebidanan.
  • Pendidikan kesehatan perlu ditingkatkan kepada pasien dan keluarga, agar mengerti dan mau bekerjasama untuk mengatasi masalah serta partisipasi aktif keluarga yang sangat dibutuhkan dalam menunjang proses penyembuhan.

 

2.         Bagi institusi pendidikan

Untuk setiap institusi pendidikan agar menerapkan asuhan kebidanan dalam pemecahan masalah dengan upaya dapat lebih ditingkatkan dan dikembangkan.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mochtar,Rustam. 2011. Sinopsis Obstetri Jilid 1. Jakarta : EGC

Morgan,Geri. 2009. Obstetri Ginekologi Panduan Praktik. Jakarta: EGC

Sarwono. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sarwono. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s