Perdarahan Post Partum Skunder

Posted: Maret 5, 2014 in Ilmu Kebidanan

Perdarahan Post Partum Sekunder

  1. Definisi

Perdarahan post partum tahap sekunder adalah  perdarahan post partum terjadi setelah 24 jam pertama. Perdaran postpartum sekunder jika terjadi perdarahan setelah 24 jam .  Perdarahan post partum sekunder adalah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi setelah 24 jam pertama setelah anak lahir, biasanya antara hari ke 5 sampai 15 hari postpartum.

Perdarahan nifas dinamakan sekunder adalah bila terjadi 24 jam atau lebih sesudah persalinan. Perdarahan nifas sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah lebih 24 jam post partum dan biasanya terjadi pada minggu kedua nifas.

Perdarahan postpartum merupakan penyebab penting kematian maternal khusunya di Negara berkembang. Faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum adalah grandemultipara, jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun, persalinan yang dilakukan dengan tindakan : pertolongan kala uri yang sebelum waktunya; pertolongan persalinan dengan dukun; persalinan dengan paksa; dan persalinan dengan narkosa.

 

 

  1. Etiologi
  2. Sisa Plasenta

Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (biasanya terjadi dalam 6 – 10 hari pasca persalinan). Pada perdarahan postpartum dini akibat sisa plasenta ditandai dengan perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik. Pada perdarahan postpartum lambat gejalanya sama dengan subinvolusi rahim, yaitu perdarahan yang berulang atau berlangsung terus dan berasal dari rongga rahim. Perdarahan akibat sisa plasenta jarang menimbulkan syok. Penilaian klinis sulit untuk memastikan adanya sisa plasenta, kecuali apabila penolong persalinan memeriksa kelengkapan plasenta setelah plasenta lahir. Apabila kelahiran plasenta dilakukan oleh orang lain atau terdapat keraguan akan sisa plasenta, maka untuk memastikan adanya sisa plasenta ditentukan dengan eksplorasi dengan tangan, kuret atau alat bantu diagnostik yaitu ultrasonografi. Pada umumnya perdarahan dari rongga rahim setelah plasenta lahir dan kontraksi rahim baik dianggap sebagai akibat sisa plasenta yang tertinggal dalam rongga rahim.

  1. luka- robekan jalan lahir yang terbuka kembali
  2. kemungkinan gangguan pembekuan darah : kematian janin melebihi 6 minggu,

    solusio plasenta dan emboli air ketuban.

 

  1. Faktor Penyebab
  1. Endometritis
  2. Sub involusi adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal involusi/proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya,sehingga proses pengecilan uterus terhambat.

Penyebab :

  1. a) Terjadi infeksi pada endometrium
  2. b) Terdapat sisa plasenta dan selaputnya
  3. c) Terdapat bekuan darah
  4. d) Mioma uteri

 

Tanda dan Gejala :

  • Biasanya tanda dan gejala subinvolusi tidak tampak,sampai kira-kira 4 – 6 minggu postpartum.
  • Fundus uteri letaknya tetap tinggi didalam abdomen/pelvis dari yang diperkirakan/penurunan fundus uteri lambat dan tonus uterus lembek.
    Keluaran lochia seringkali gagal berubah dari bentuk rubra kebentuk serosa,lalu kebentuk lochia alba
  • Lochia bisa tetap dalam bentuk rubra dalam waktu beberapa hari postpartum/lebih dari 2 minggu postpartum
  • Lochia bisa lebih banyak daripada yang diperkirakan
  • Leukore dan lochia berbau menyengat,bisa terjadi jika ada infeksi.
  • Pucat,pusing,dan tekanan darah rendah
  • Bisa terjadi perdarahan postpartum dalam jumlah yang banyk ( > 500 ml )
  • Nadi lemah,gelisah ,letih,ekstrimitas dingin.

Terapi :

  • Pemberian Antibiotika
  • Pemberian Uterotonika
  • Pemberian Tansfusi
  • Dilakukan kerokan bila disebabkan karena tertinggalnya sisa – sisa plasenta
  1. Inversion uteri
  2. Pemberian estrogen untuk menekan laktasi

 

  1. Tanda dan Gejala Umum
    1. Pucat
    2. Lemah
    3. Menggigil
    4. Tekanan darah rendah ( sistolik < 90 mmHg )
    5. Nadi lemah ( < 100x/m )
    6. Anemia ( hb < 8 g% )

 

 

  1. Gejala Klinis
  2. Perdarahan berkelanjutan yang menyimpang dari patrun pengeluaran lokia normal.
  3. Dapat terjadi perdarahan yang cukup banyak disertai syok.
  4. Pemeriksaan fisik
  5. Dapat disertai infeksi, nadi cepat, temperature tinggi
  6. Uterus subinvolusio dengan penurunan tidak sesuai dengan masa puerperium
  7. Kontraksi masih lembek, nyeri tekan
  8. Pemeriksaan dalam :
  • Serviks terbuka
  • Teraba sisa plasenta
  1. Pemeriksaan penunjang :
  • Laboratorium lengkap dan USG

 

  1. Penatalaksanaan
    1. Selalu siap dengan tindakan gawat darurat.
    2. Penatalaksanaan manajemen aktif kala III persalinan.
  2. Meminta bantuan/pertolongan kepada petugas kesehatan lain.
  3. Melakukan penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi kesadaran, nadi, tekanan
  4. darah, pernafasan dan suhu.
  5. Pemeriksaan kandung kemih, apabila penuh segera kosongkan.
  6. Mencari penyebab perdarahan dan melakukan pemeriksaan untuk menentukan
  7. penyebab perdarahan.

 

  1. Langkah Awal Penanganan Perdarahan sekunder
    1. Prioritas dalam penatalaksanaan HPP sekunder (sama dengan HPP primer)
    2. Masukkan pasien ke rumah sakit sebagai salah satu kasus kedaruratan
    3. Percepatan kontraksi dengan cara melakukan massage uterus, jika uterus masih teraba
    4. Kaji kondisi pasien, jika pasien di daerah terpencil mulailah sebelum dilakukan rujukan
    5. Berikan oksitosin (oksitosin 10 IU IV dan ergometrin 0,5 IV. Berikan melalui IM apabila tidak bisa melalui IV)
    6. Siapkan darah untuk transfuse, ambil darah untuk cross cek, berikan NaCl 11/15 menit apabila pasien mengalami syok (pemberian infuse sampai sekitar 3 Lt untuk mengatasi syok), pada kasus syok yang parah gunakan plasma ekspander
    7. Awasi agar uterus tetap berkontraksi dengan baik.  Tambahkan 40 IU oksitosin dalam 1 liter cairan infuse dengan tetesan 40 tetes/menit
    8. Berikan antibiotic berspektrum luas
    9. Jika mungkin siapkan pasien untuk pemeriksaan segera di bawah pengaruh anastesi

 

  1. Terapi Penangan Perdarahan Postpartum Sekunder

Persiapan terapi perdarahan postpartum sekunder :

  • Infuse dan tranfusi darah
  • Tergantung dari sumber darahnya
  1. Perdarahan berasal dari perlukaan yang terbuka
  • Dijahit kembali
  • Evaluasi kemungkinan terjadi hematoma
  1. Perdarahan berasal dari implantasi plasenta
  • Lakukan dengan anestesia dengan demikian kuretase dapat dilakukan dengan aman dan bersih
  • Jaringan yang dilepaskan harus dilakukan pemeriksaan untuk memperoleh kepastian.
  1. Perawatan terapi perdarahan postpartum sekunder :
  • Rehidrasi diteruskan sampai tercapai keadaan optimal
  • Berikan antibiotika
  • Berikan pengobatan suportif :
  • Gizi yang baik
  • Vitamin dan praparan Fe
  • Terapi lanjut tergantung pada hasil patologis anatominya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s