Anemia Dalam Kehamilan

Posted: Februari 19, 2014 in Ilmu Kebidanan
  1. Pengertian Anemia

Anemia adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh jaringan.

Menurut WHO (1992) anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin lebih rendah dari batas normal untuik kelompok orang yang bersangkutan.

Anemia secara laboratorik yaitu keadaan apabila terjadi penurunan dibawah normal kadar hemoglobin, hitung eritrosit dan hemotokrit (bakta, 2003)

 

  1. Kriteria Anemia

Penentuan anemia pada seseorang tergantung pada usia, jenis kelamin dan tempat tinggal.

Kriteria anemia menurut WHO (1968) adalah :

Laki-laki dewasa                                 : Hemoglobin 13g/dl

Wanita dewasa tidak hamil                 : Hemoglobin 12g/dl

Wanita hamil                                       : hemoglobin 11g/dl

Anak umur 6-14 tahun                        : hemoglobin 12g/dl

Anak umur 6 bulan – 6 tahun                         : hemoglobin 11g/dl

 

Secara klinis Kriteria anemia di Indonesia umumnya adalah :

  1. hemoglobin 10 g/dl
  2. hemotosit 30 %
  3. eritrosit 2.8 juta/mm3.

 

  1. Derajat Anemia

Derajat anemia berdasarkan kadar hemoglobin menurut WHO :

  • Ringan sekali : hb 10g/dl – batas normal
  • Ringan : hb 8gr/dl – 9.9 g/dl
  • Sedang : hb 6g/dl – 7.9g/dl
  • Berat : hb 6 g/dl

Departemen kesehatan menetapkan derajat anemia sebagai berikut :

  • Ringan sekali
  • Normal
  • Ringan
  • Sedang
  • Berat

 

  1. Klasifikasi Anemia

Klasifikasi anemia berdasarkan penyebabnya dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori.

  1. Anemia karena hilangnya sel darah merah, terjadi akibat perdarahan karena berbagai sebab seperti perlukaan, perdarahan gastrointestinal, perdarahan uterus, perdarahan hidung, perdarahan akibat operasi.
  2. Anemia karena menurunnya produksi sel darah merah, dapat di sebabkan karena kekurangan unsure penyusun sel darah merah (asam folat, vitamin B12 dan zat besi), gangguan fungsi sumsum tulang (adanya tumor, pengobatan, toksin), tidak adekuatnya stimulasi karena berkurangnya eritropoitin (pada penyakit ginjal kronis).
  3. Anemia karena meningkatnya destruksi/kerusakan sel darah merah, dapat terjadi karena overaktifnya reticu ioendothelial system (RES). Meningkatnya destruksi sel darah merah dan tidak adekuatnya produksi sel darah merah biasanya karena factor-faktor :

 

  • Kemampuan respon sumsum tulang terhadap penurunan sel darah merah kurang karena meningkatnya jumlah retikulosit dalam sirkulasi darah.

 

  • Meningkatnya sel-sel darah merah yang masih muda dalam sumsum tulang dibandingkan yang matur/matang.

 

  • Ada atau tidaknya hasil destruksi sel darah merah dalam sirkulasi (seperti meningkatnya kadar bilirubin).

 

 

  1. Etiologi

 

Penyebab anemia adalah :

 

  1. Genetik :           Hemoglobinopati

Thalasemia

Abnormal enzim glikolitik

Fanconi anemia

 

  1. Nutrisi :           Defisiensi besi, defisiensi asam folat

Defisiensi cobal/vitamin B12

Alkoholis, kekurangan nutrisi/malnutrisi.

 

 

 

  1. Infeksi :           Hepatitis

Cytomegalovirus

Clostridia

Sepsis gram negative

Malaria

Toksoplasmosis

 

  1. Obat-obatan dan zat kimia :           Agen chemoterapi

Anticonvulsant

Antimetabolis

Kontrasepsi

Zat kimia toksik

 

  1. Trombotik trombositopenia purpura dan syndrome uremik hemolitik.

 

  1. Efek fisik :           Trauma

Luka bakar

Gigitan ular

 

  1. Penyakit kronis dan maligna :           Penyakit ginjal, hati

Infeksi kronis

Neoplasma

  1. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinis pada anemia timbul akibat respon tubuh terhadap hipoksia (kekurangan oksigen dalam darah). Manifestasi klinis tergantung dari kecepatan kehilangan darah, akut atau kronik anemia, umur dan ada atau tidaknya penyakit misalnya penyakit jantung. Kadar Hb biasanya berhubungan dengan manifestasi klinis. Bila Hb 10 – 12 g/dl diantaranya dyspnea (kesulitan bernapas, napas pendek), palpitasi, keringat banyak, keletihan.

Manifestasi klinis anemia berat (Hb < 6 g/dl)

Area Manifestasi Klinik
 

Keadaan umum

 

 

 

Kulit

 

 

Mata

 

Telinga

 

Mulut

 

Paru – paru

 

Kardiovaskular

 

 

Gastriintestinal

 

 

Genitourinaria

 

 

Muskoleskeletal

 

Sistem persarafan

 

 

Pucat, keletihan berat, kelemahan, nyeri kepala, demam, dispnea, vertigo, sensitif terhadap dingin, berat badan menurun

 

Pucat, jaundice (pada anemia hemolitik), kulit kering, kuku rapuh, club bing

 

Penglihatan kabur, jaundice, sclera dan perdarahan retina

 

Vertigo tinnitus

 

Mukosa licin dan mengkilap

 

Dyspnea, orthopnea

 

Takhikardia, palpitasi, murmur, angina, hipotensi, kardio megali, gagal jantung

 

Anoreksia, disfagia, nyeri abdomen, hepatomegali, splenomegali

 

Amenore dan menoragia, menurunnya fertilisasi, hematuria (pada anemia hemolitik)

 

Nyeri pinggang, nyeri sendi, tenderness, sternal

 

Nyeri kepala, bingung, neuropati perifer, parestesia, mental depresi, cemas, kesulitan koping

 

 

  1. Test Diagnostik

Untuk menentukan adanya kelainan darah, perlu dilakukan test diagnostic dan pemeriksaan darah.

Beberapa istilah yang lazim di pakai dalam pemeriksaan darah di antaranya :

  1. Hitung sel darah yaitu jumlah sebenarnya dari unsure darah (sel darah merah, sel darah putih dan trombosit)
  2. Dalam volume darah tertentu, dinyatakan sebagai jumlah sel per millimeter kubik (mm3).
  3. Hitung jenis sel darah yaitu menentukan karakteristik morfologi darah maupun jumlah sel darah
  4. Pengukuran hematokrit atau volume sel padat, menunjukkan volume darah lengkap (sel darah merah). Pengukuran ini menunjukkan presentasi sel darah merah dalam darah, dinyatakan dalam mm3 / 100 ml.
  5. Mean corpuscular hemoglobin atau konsentrasi hemoglobin rata-rata adalah mengukur banyaknya hemoglobin yang terdapat dalam satu sel darah merah.
  6. MCH ditentukan dengan membagi jumlah hemoglobin dalam 100 ml darah dengan jumlah sel darah per millimeter kubik darah. Nilai normalnya kira-kira 27-31 pikogram/sel darah merah.
  7. Mean corpuscular volume (MCV) atau volume eritrosit rata-rata merupakan pengukuran besarnya sel yang di nyatakan dalam micrometer kubik, dengan batas normal 81-96 m3 , apabila kurannya kurang dari 81 maka menunjukkan sel-sel mikrositik. Apabila lebih besar dari 96 menunjukkan sel-sel makrositik.
  8. Mean corpuscular hemoglobin concentrasion atau kosentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata, mengukur banyaknya hemoglobin dalam 100 ml sel darah merah padat. Normalnya 30-36 gr/100ml darah.
  9. Hitung leukosit adalah jumlah leukosit dalam 1 mm3
  10. Hitung trombosit adalah jumlah trombosit dalam 1 mm3
  11. Pemeriksaan sumsum tulang yaitu dengan melakukan aspirasi dan biopsy pada sumsum tulang, biasanya pada sternum, procesus spinosus bvertebra, Krista iliaka anterior atau posterior. Pemeriksaan sumsum di lakukan jika tidak cukup data-data yang di peroleh untuk mendiagnosa penyakit pada system hemotologik.
  12. Pemeriksaan biokimiawi, pemeriksaan untuk mengukur kadar unsure-unsur yang perlu bagi perkembangan sel-sel darah merah seperti kadar besi (fe) serum, vitamin B12, dan asam folat.

 

  1. Penanganan

Terapi anemia defisiensi besi ialah dengan preparat besi oral atau parenteral. Terapi oral ialah dengan pemberian preparat besi : fero sulfat, fero gluconat, atau Na-fero bisitrat.

Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan , kadar Hb sebanyak 1 g%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relative kecil pada pemberian preparat Na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat.

Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50µg asam folat untuk profilaksis anemia.

Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg ( 20 ml ) intravena atau 2 x 10ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relative lebih cepat yaitu 2 g%. pemberian parenteral ini mempunyai indikasi : intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis.

 

PENANGANAN ANEMIA DALAM KEHAMILAN MENURUT TINGKAT PELAYANAN

 

Polindes ·         Membuat diagnosis : klinik rujukan pemeriksaan laboratorium.

·         Memberikan terapi oral : besi 60 mg/hari.

·         Penyuluhan gizi ibu hamil dan menyusui.

Puskesmas ·         Membuat diagnosis dan terapi.

·         Menentukan penyakit kronik ( TBC, Malaria) dan penanganannya.

Rumah Sakit ·         Membuat diagnosis dan terapi.

·         Diagnosis thalassemia dengan elektroforesis Hb, bila ibu ternyata pembawa sifat, perlu tes pada suami untuk menentukan resiko pada bayi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s