Plasenta Previa

Posted: Maret 25, 2013 in Ilmu Kebidanan

2.1 Definisi Plasenta Previa

 

Plasenta merupakan bagian dari kehamilan yang penting, mempunyai bentuk bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500 gram. Plasenta merupakan organ yang sangat aktif dan memiliki mekanisme khusus untuk menunjang pertumbuhan dan ketahanan hidup janin. Hal ini termasuk pertukaran gas yang efisien, transport aktif zat-zat energi, toleransi imunologis terhadap imunitas ibu pada alograft dan akuisisi janin. Melihat pentingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan kelainan pada janin ataupun mengganggu proses persalinan. Salah satu kelainan pada plasenta adalah kelainan implantasi atau disebut dengan plasenta previa (Manuaba, 2005).

Plasenta previa merupakan implementasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum, serta menimulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim (Cunningham, 2006).

Plasenta previa adalah kondisi saat plasenta terimplantasi di bawah kutub uterus. Implantasi ini dapat berupa:

  1. Total atau komplit : plasenta menutupi seluruh ostium uteri serviks.
  2. Parsial: hanya sebagian ostium uteri yang tertutupi.
  3. Marginal: ujung plasenta berada pada tepi ostium uteri.
  4. Letak-rendah : ujung plasenta berada sangat dekat dengan tepi ostium uteri.

 

Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya bagian terendah sering kali terkendala memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) atau menimbulkan kelainan janin dalam rahim. Pada keadaan normal plasenta umumnya terletak di korpus uteri bagian depan atau belakang agak ke arah fundus uteri (Prawirohardjo, 2008).

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada bagian segmen bawah rahim, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir yang ditandai dengan perdarahan uterus yang dapat keluar melalui vagina tanpa adanya rasa nyeri pada kehamilan trimester terakhir, khususnya pada bulan kedelapan (Chalik, 2008).

Plasenta previa adalah perdarahan yang terjadi pada implantasi plasenta yang menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (Manuaba, 2008).

Sejalan dengan bertambah membesarnya rahim dan meluasnya segmen bawah rahim ke arah proksimal memungkinkan plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim ikut berpindah mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi. Ostium uteri yang secara dinamik mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bisa mengubah luas pembukaan serviks yang tertutu oleh plasenta. Fenomena ini berpengaruh pada derajat atau klasifikasi dari plasenta previa ketika pemeriksaan dilakukan baik dalam masa antenatal maupun dalam masa intranatal, baik dengan ultrasonografi maupun pemeriksaan digital. Oleh karena itu, pemeriksaan ultrasonografi perlu diulang secara berkala dalam asuhan antenatal ataupun intranatal. (Prawirohardjo, 2011)

2.2 Klasifikasi Plasenta Previa

 

  1. plasenta previa totalis atau kompilt adalah plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum.
  2. plasenta previa parsialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri internum.
  3. plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum.
  4. Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum. Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap plasenta letak normal. (Prawirohardjo , 2011)

Menurut Chalik (2008) plasenta previa dapat digolongkan menjadi empat bagian yaitu:

  1. Plasenta previa totalis atau komplit, adalah plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum.
  2. Plasenta previa parsialis, adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri internum.
  3. Plasenta previa margianalis adalah plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum.
  4. Plasenta letak rendah, yang berarti bahwa plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim yang sedemikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum.

 

Plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap.

Secara umum plasenta previa dapat dibagi menjadi empat, yaitu :

  1. Plasenta previa totalis

Apabila jaringan plasenta menutupi seluruh ostium uteri internum.

  1. Plasenta previa parsialis

Yaitu apabila jaringan plasenta menutupi sebagian ostium uteri internum.

  1. Plasenta previa marginalis

Yaitu plasenta yang tepinya terletak pada pinggir ostium uteri internum.

  1. Plasenta previa letak rendah

Apabila jaringan plasenta berada kira-kira 3-4 cm di atas ostium uteri internum, pada pemeriksaan dalam tidak teraba (Prawirohardjo, 2008).

 

2.3 Etiologi Plasenta Previa

Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa desidua di daerah segmen bawah rahim tanpa latar belakang lain yang mungkin. Teori lain mengemukan sebagai salah satu   penyebabnya adalah vaskularisasidesidua yang tidak memadai, mungkin sebagai akibat dari proses radang atau atrofi. Paritas tinggi, usia lanjut,cacat rahim misalnya bekas sesar, kerokan, miomektomi dan sebagainya berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium yang semuanya dapat dipandang sebagai faktor risiko bagi terjadinya plasenta previa. Cacat bekas bedah sesar berperan menaikkan insiden dua sampai tiga kali. Pada perempuan perokok dijumpai insidensi plasenta previa lebih tinggi 2 kali lipat. Hipoksemia akibat karbon mono-oksida hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta menjadi hipertopri sebagai upaya kompensasi. Plasenta yang terlalu besar seperti pada kehamilan ganda dan eritroblastokis fetalis bisa menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum. (sarwono, 2011)

Sumber perdarahannya adalah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahannya tidak dapat dihindari karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu tidak sebagaimana serabut otot uterus menghentikan perdarah pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada palsenta letak rendah yang mungkin baru berdarah setekah persalinan dimulai (sarwono, 2005).

 

2.4 Tanda dan Gejala Plasenta Previa

 

  1. Perdarahan pervaginam

Darah berwarna merah terang pada umur kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga merupakan tanda utama plasenta previa. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak sehingga tidak akan berakibat fatal, tetapi perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari perdarahan sebelumnya.

  1. Tanpa alasan dan tanpa nyeri

Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan tanpa nyeri yang biasanya baru terlihat setelah kehamilan mendekati akhir trimester kedua atau sesudahnya.

  1. Pada ibu, tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang, perdarahan yang sedikit demi sedikit atau dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat, dapat menimbulkan anemia sampai syok.
  2. Pada janin, turunnya bagian terbawah janin ke dalam Pintu Atas panggul (PAP) akan terhalang, tidak jarang terjadi kelainan letak janin dalam rahim, dan dapat menimbulkan aspiksia sampai kematian janin dalam rahim (Manuaba, 2005).

 

Ciri yang menonjol dari plasenta previa adalah perdarahan uterus yang keluar melalui vagina tanpa disertai dengan adanya nyeri. Perdarahan biasanya terjadi diatas akhir trimester kedua. Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan dapat berhenti sendiri. Namun perdarahan dapat kembali terjadi tanpa sebab yang jelas setelah beberapa waktu kemudian. Dan saat perdarahan berulang biasanya perdarahan yang terjadi lebih banyak dan bahkan sampai mengalir. Karena letak plasenta pada plasenta previa berada pada bagian bawah, maka pada palpasi abdomen sering teraba bagian terbawah janin masih tinggi diatas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang. Pada plasenta previa ini tidak ditemui nyeri maupun tegang pada perut ibu saat dilakukan palpasi (Chalik, 2008).

 

2.5 Penatalaksanaan Plasenta Previa

 

            Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi. Sebelum dirujuk,  anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut (misal batuk, mengedan karena sulit BAB). Pasanag infuse NaCl, bila tidak memungkinkan beri cairan peroral. Pantau TD dan N pasien secara terartur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. Bila terjadi renjatan, segera lakukan retutitasi cairan dan transfusi darah. Penanganan di RS dilakukan sesuai dengan kehamilan. Pengelolaan plasenta previa  tergantung dari banyaknya perdarahan, umur kehamilan dan derajat plasenta previa. Setiap ibu yang dicurigai, harus dirujuk ke RS yang memiliki fasilitas untuk transfusi darah dan operasi (Pudiastuti, 2012).

Sebelum penderita syok, pasang infuse NaCl/RL sebanyak 2-3 kali jumlah darah yang hilang. Jangan melakukan Pemeriksaan Dalam atau Tampon Vagina, karena akan memperbanyak perdarahan dan menyebabkan infeksi (Pudiastuti, 2012).

  1. Bila usia kehamilan kurang 37 minggu
  2. Perdarahan sedikit, keadaan ibu dan anak baik, makan biasanya penanganan konservatif sampai umur kehamilan aterm. Penanganan berupa tirah baring, hematinik, antibiotika dan tokolitik bila ada his. Bila selama 3 hari tak ada perdarahan pasien, lakukan mobilisasi bertahap. Bila setelah pasien berjalan tetap tidak ada perdarahan, maka pasien boleh pulang. Pasien dianjurkan agar tidak koitus, tidak bekerja keras, dan segera ke RS jika terjadi perdarahan. Nasihat ini juga dianjurkan bagi pasien yang didiagnosis plasenta preva dengan USG namun tidak mengalami perdarahan.
  3. Jika perdarahan banyak dan diperkirakan membahayakan ibu dan janin, maka dilakukan resusitasi cairan dan penanganan secara aktif.

(Pudiastuti, 2012).

 

  1. Bila usia kehamilan 37 minggu/ Lebih dan TBBJ 2500 gram

Pada kondisi ini, maka dilakukan penanganan secara aktif yaitu segera mengakhiri kehamilan, baik secara pervaginam/perabdominal. Persalinan pervaginam diindikasikan pada plasenta previa marginalis, letak rendah dan lateralis dengan pembukaan 4 cm/lebih. Pada kasus tersebut, bila tidak banyak perdarahan, maka dapat dilakukan pemecahan  kulit ketuban agar bagian bawah anak dapat masuk PAP menekan plasenta yang berdarah. Bila his tidak adekuat, dapat diberikan pitosin drip. Namun bila perdarahan tetap ada, maka dilakukan sectio cesaria (Pudiastuti, 2012).

            Persalinan dengan sectio cesaria diindikasikan untuk plasenta previa totalis baik janin mati atau hidup, plasenta previa lateralis dimana perbukaan penentuan janin plasenta previa dapat dilakukan dengan USG dan pemeriksaan dalam dikamar operasi (Pudiastuti, 2012).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s