Postmatur

Posted: Mei 15, 2012 in Ilmu Kebidanan

 

  1. Definisi

Postmatur adalah kehamilan yang melampaui  usia 294 hari (42 Minggu) dengan segala kemungkinan komplikasinya. Nama lain kehamilan lewat waktu adalah kehamilan serotinus, prolonged pregnancy, atau post-term pregnancy (Manuaba, 2008).

Kehamilan postmatur menurut Prawirohardjo adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap di hitung dari hari pertama haid terakhir.

 

  1. Etiologi

Penyebab pasti belum diketahui, faktor yang dikemukakan adalah :

  1. Penurunan kadar estrogen pada kehamilan normal umumnya tinggi
  2. Faktor hormonal, yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang.
  3. Faktor herediter, karena post naturitas sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu
  4. Insufiensi plasenta/andrenal janin

 

  1. Manifestasi Klinik

Keadaan klinis yang dapat ditemukan ialah gerakan janin yang jarang yaitu secara subyektif kurang dari 7 kali/20 menit atau secara obyektif dengan KTG kurang dari 10 kali/20 menit.

Pada bayi akan ditemukan tanda-tanda lewat waktu yang terbagi menjadi:

  1. Stadium I

Kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit kering, rapuh dan mudah mengelupas.

  1. Stadium II

Seperti stadium I disertai pewarnaan mekonium (kehijauan) pada kulit

  1. Stadium III

Seperti stadium I disertai pewarnaan kekuningan pada kuku, kulit dan tali pusat

 

Tanda bayi Postmatur (Manuaba, 2007):

  1. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram)
  2. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur
  3. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang
  4. Verniks kaseosa di bidan kurang
  5. Kuku-kuku panjang
  6. Rambut kepala agak tebal
  7. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel

 

  1. Penatalaksaan

Pada persalinan pervaginam harus diperlihatkan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar dan kemungkinan CPP dan distosia janin perlu dipertimbangkan. Selain itu janin post date lebih peka terhadap sedative dan narkosa, perawatan neonates perlu di bawah pengawasan dokter anak.

Penatalaksanaan meliputi:

  1. Setelah usia kehamilan > 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya.
  2. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiense plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat
  3. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa amniotomi.
  4. Bila terdapat riwayat kehamilan yang lalu terdapat hipertensi, preeklamsi, dan kehamilan ini adalah anak pertama karena infertalitas atau pada kehamilan lebih dari 40-42 minggu maka ibu dirawat di rumah sakit.
  5. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada
  1. Insufisiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang
  2. Pembukaan yang belum lengkap, persalinan lama dan terjadi gawat janin, atau
  3. Pada primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pre-eklampsia, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.

 

 

Penanganan postmatur menurut saifuddin (2006) yaitu pengelolaan kehamilan posterm diawali dengan umur kehamilan 41 minggu, karena meningkatnya pengaruh buruk pada keadaan perinatal setelah umur kehamilan 40 minggu dan meningkatnya insidensi janin besar. Bila kehamilan >40 minggu, ibu hamil dianjurkan menghitung gerak janin selama 24 jam (tidak boleh < 10 kali) atau menghitung jumlah gerakan janin persatuan waktu dan dibandingkan (mengalami penurunan atau tidak). Pengelolaan persalinan pada penanganan postmature yaitu sebagai berikut:

  1. Bila sudah dipastikan umur kehamilan 41 minggu, pengelolaan tergantung dari derajad kematangan servik.
  2. Bila servik matang
  3. Dilakukan induksi persalinan bila tidak ada janin besar, jika janin >4000 gram, dilakukan secsio cesarea.
  4. Pemantauan intra partum  dengan mempergunakan KTG (kardiotokografi) dan dokter spesialis anak apalagi jika ditemukan mekonium mutlak.
  5. Bila servik belum matang perlu menilai keadaan janin lebih lanjut apabila kehamilan tidak diakhiri
  6. NST dan penilaian volume kantong amnion. Bila keduanya normal, kehamilan dibiarkan berlanjut dan penilaian janin dilanjutkan seminggu dua kali.
  7. Bila ditemukan oligohidramnion (< 2 cm pada kantong yang vertikan atau indeks cairan amnion < 5) atau dijumpai deselerasi variable pada NST, maka dilakukan induksi persalinan.
  8. Bila volume cairan amnion normal dan NST tidak reaktif, tes dengan kontraksi (CST) harus dilakukan. Hasil CST positif, janin perlu dilahirkan, sedangkan bila CST negative kehamilan dibiarkan berlangsung dan penilaian janin dilakukan lagi 3 hari kemudian.
  9. Keadaan servik (sekor bishop) harus dinilai ulang setiap kunjungan pasien, dan kehamilan yharus diakhiri bila servik matang.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s