Distosia Kelainan Alat Kandungan

Posted: April 1, 2012 in Ilmu Kebidanan

Definisi

Kehamilan mola adalah suatu kehamilan yang ditandai dengan hasil konsepsi yang tidak berkembang menjadi embrio setelah fertilisasi, namun terjadi proliferasi dari villi korialis disertai dengan degenerasi hidropik. Uterus melunak dan berkembang lebih cepat dari musia gestasi normal, tidak di jumpai adanya janin, dan kavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti rangkaian buah anggur(yulaikha, 2009).

Jonjot-jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelumbung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan sehingga sering disebut hamil anggur atau mata ikan. Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas yang jinak (yulaikha, 2009).

Mola hidatidosa adalah berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu juga disebut  hamil anggur atau mata ikan (pudiastuti, 2012).

Mola hidatidosa adalah suatu tumor plasenta yang terjadi saat perkembangan embrionik, berasal dari sel trofoblas yang berkembang dalam plasenta (morgan, 2009).

Klasifikasi menurut Sastrawinata,dkk. 2005)

  1. Mola Hidatidosa komplet(MHK) merupakan kehamilan abnormal tanpa embrio yang seluruh vili korialisnya mengalami degenerasi hidropik yang menyerupai anggur. Miksroskopik tampak edema stroma villi tanpa vaskularisasi disertai hiperplasia dari kedua lapisan trofoblas.
  2. Mola hidatidosa parsial (MHP) seperti pada MHK, tetapi di sini masih ditemukan embrio yang biasanya mati pada masa dini. Degenerasi hidropik dari villi bersifat setempat, dan yang mengalami hiperplasia hanya sinsitio trofoblas saja.

 

Etiologi (Menurut pudiastuti . 2012).

Penyebab pasti mola hidatidosa tidak diketahui. Faktor-faktor penyebab kehamilan ini, meliputi :

  1. Faktor ovum

Pembuahan sel telur dimana intinya telah hilang atau tidak aktif lagi oleh sebuah sel sperma.

  1. Imunoselektif dari trofoblas

Perkembangan molahidatidosa diperkirakan disebabkan oleh kesalahan respon imun ibu terhadap invasi oleh trofoblas. Akibatnya vili mengalami distensi kaya nutrient. Pembuluh darah primitive di dalam vilus  tidak terbentuk dengan baik sehingga embrio ‘ kelaparan’, mati, dan diabsorpsi, sedangkan trofoblas terus tumbuh dan pada keadaan tertentu mengadakan invasi kejaringan ibu.

  1. Usia

Faktor usia yang dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dapat terjadi kehamilan mola. Prekuensi molahidatidosa pada kehamilan yang terjadi pada awal atau akhir usia subur relatif tinggi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada usia berapa pun dalam usia subur dapat terjadi kehamilan mola.

  1. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah

Dalam masa kehamilan keperluan akan zat-zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin, dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah maka untuk memenuhi zat-zat gizi yang diperlukan tubuh kurang sehingga mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan janinnya.

  1. Paritas tinggi

Pada ibu yang berparitas tinggi, cenderung beresiko terjadi kehamilan molahidatidosa karena trauma kelahiran atau penyimpangan transmisi secara genetik yang dapat diidentifikasikan dengan penggunaan stimulandrulasi seperti klomifen atau menotropiris (pergonal). Namun juga tidak dapat dipungkiri pada primipara pun dapat terjadi kehamilan molahidatidosa.

  1. Defisiensi protein

Protein adalah zat untuk membangun jaringan-jaringan bagian tubuh sehubungan dengan pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim dan buah dada ibu, keperluan akan zat protein pada waktu hamil sangat meningkat apabila kekurangan protein dalam makanan mengakibatkan pertumbuhan pada janin tidak sempurna.

  1. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas

Infeksi mikroba dapat mengenai semua orang termasuk wanita hamil. Masuk atau adanya mikroba dalam tubuh manusia tidak selalu menimbulkan penyakit    ( desease ). Hal ini sangat tergantung dari jumlah mikroba ( kuman atau virus ) yang termasuk virulensinya seta daya tahan tubuh.

  1. Riwayat kehamilan mola sebelumnya

Kekambuhan molahidatidosa dijumpai pada sekitar 1-2% kasus. Dalam suatu kejadian terhadap 12 penelitian yang total mencangkup hampir 5000 Kelahiran, frekwensi mola adalah 1,3%. Dalam suatu ulasan tentang molahidatidosa berulang tapi pasangan yang berbeda bisa disimpulkan bahwa mungkin terdapat “ masalah oosit primer “.

  1. Tanda dan gejala (Menurut morgan dan carole. 2009)
  2. Bisa terlihat seperti kehamilan normal
  3. Peningkatan tajam kadar hCG karena proliferasi cepat sel plasenta, yang mengeksresikan hCG
  4. Hiperemisis gravidarum pada 30% pasien ini karena pertambahan jaringan plasenta yang menstimulasi korpus luteum secara berlebihan dan produksi hormon yang meningkat
  5. Uterus kerap bertambah besar dari usia kehamilan karena pertumbuhan mola yang cepat.
  6. Nyeri tekan pada ovarium dan ovarium kerap membesar
  7. Tidak ada DJJ
  8. Perdarahan tanpa nyeri yang tidak teratur paling banyak terjadi pada 12 minggu kehamilan. Mungkin terus menerus atau intermiten, biasanya berwarna kecoklatan, dan tidak banyak.
  9. Terjadi preeklamsia sebelum 24 minggu
  10. Mungkin anemik sekunder akibat kehilangan darah dan/atau nutrisi yang buruk karena hiperemisis
  11. Penanganan (Menurut Pudiastuti.2012).

Terapi

  1. Kalau perdarahan banyak dan keluar jaringan mola, atasi syok dan perbaiki keadaan umum penderita dengan pemberian cairan dan transfusi darah. Tindakan pertama adalah melakukan manual digital untuk pengeluaran sebanyak mungkin jaringan dan bekuan darah; barulah dengan tenang dan hati-hati evakuasi sisa-sisanya dengan kuretase.
  2. Jika pembukaan kanalis servikalis masih kecil:
  • Pasang beberapa ganggang laminaria untuk memperlebar permukaan selama 12 jam.
  • Setelah itu pasang infus dektrosa 5% yang berisi 50 satuan oksitosin(pitosin atau sintosinon); cabut laminaria, kemudian setelah itu lakukan evakuasi isi kavum uteri dengan hati-hati.
  • Pakailah kunam ovum yang agak besar atau kuret besar, ambillah dulu bagian tengah baru bagian-bagiannya yang lain pada kavum uteri. Pada kuretase yang pertama ini, keluarkanlah jaringan sebanyak mungkin, tak usah terlalu bersih.
  • Kalau perdarahan banyak, berikan transfusi darah dan lakukan tampon utero vaginal selama 24 jam.
  1. Bahan jaringan dikirim untuk pemeriksaan histo-patologik dalam 2 porsi:
  • Porsi 1: yang dikeluarkan dengan cunam ovum;
  • Porsi 2: yang dikeluarkan dengan kuretase.
  1. Berikan obat-obatan : antibiotika, uterus tonika dan perbaikan keadaan umum penderita.
  2. 7-10 hari sesudah kerokan pertama, dilakukan kerokan kedua untuk membersihkan sisa-sisa jaringan, dan kirim lagi hasilnya untuk pemeriksaan laboratorium.
  3. Kalau mola terlalu besar dan takut perforasi bila dilakukan kerokan, ada beberapa institut yang melakukan histerotomia untuk melakukan isi rahim(mola).
  4. Histerektomi total dilakukan pada mola resiko tinggi (high risk mola) : usia lebih dari 30 tahun, paritas 4 atau lebih, dan uterus yang sangat besar (mola besar), yaitu setinggi pusat atau lebih.

Periksa ulang (follow-up)

Ibu dianjurkan jangan hamil dulu dan dianjurkan memakai kontrasepsi pil. Kehamilan, dimana reaksi kehamilan menjadi positiv akan menyulitkan observasi. Juga dinasihatkan untuk mematuhi jadwal periksa ulang nselama 2-3 tahun :

  • Setiap minggu pada triwulan pertama
  • Setiap 2minggu pada triwulan kedua
  • Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya
  • Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap 3 bulan.

Setiap periksa ulang penting diperhatikan:

  1. Gejala klinis : perdar Han, keadaan umum, dan lain-lain
  2. Lakukan pemeriksaan dalam pemeriksaan in spekulo : tentang keadaan serviks, uterus cepat bertambah kecil atau tidak, kista latein bertambah atau tidak, dan ,ain-lain.
  3. Reaksi biologis atau imunologis air seni :
  • 1xseminggu sampai hasil negatif
  • 1×2 minggu selama triwulan selanjutnya
  • 1x sebulan dalam 6 bulan selanjutnya
  • 1×3 selama tahun berikutnya

Kalau reaksi titer tetap(+) maka harus dicurigai adanya keganasan. Keganasan masih tetap timbul setelah 3 tahun pasca terkenanya mola hidatidosa. Menurut harahap ( 1970) tumor timbulnya 34,5% dalam 6 minggu; 62,1 % dalam 12 minggu, dan 79,4% dalam 24 minggu; serta 97,2 dalam 1 tahun setelah mola keluar.

Sitostatikaprofilaks pada mola hidatidosa

Beberapa institut telah memberikan methotrexato (MTX) pada penderita mola dengan tujuan sebagai profilaksis terhadap keganasan. Para ahli lain tidak setuju pemberian ini, karena disatu pihak obat ini tentu mencegah keganasan, dan dipihak lain obat ini tidak luput dari efek samping dan penyulit yang berat.

Beberapa penulis menganjurkan pemberian MTX bila:

  • Pengamatan lanjutan sukar dilakukan
  • Apabila 4 minggu setelah evakuasi mola, uji kehamilan biasa tetap positif.
  • pada high risk mola.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s