Aceh. baru-baru ini kian memanas dengan beberapa unggahan foto ‘icon’ Aceh yang dikotori oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Ya, foto Masjid Raya Baiturrahman dengan tumpukan sampah yg tersebar dimana-mana. Cukup media sosial, kabar ini dengan cepat menjadi isu yang banyak menuai komentar dunia Maya dan menjadi perbincangan hangat dimana-mana. 

Wajah baru Masjid Raya Baiturrahman dengan 12 payung elektrik ala Masjid Madinah yang di resmikan oleh bapak Wakil Presiden Yusuf Kalla 13 Mei lalu ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Mereka mengabadikan dirinya dengan berfoto ria di masjid ini dan mengunggah ke media sosial pribadinya.

Tentu saja hal ini positif sehingga mampu mendatangkan banyak wisatawan.

Jumlah pengunjung pun bertambah drastis saat lebaran, mayoritasnya adalah penduduk Aceh sendiri. Wajar saja, mereka memanfaatkan moment lebaran ini untuk berwisata religi bersama keluarganya mengunjungi masjid kebanggan. 

Tentu hal ini dimanfaatkan oleh pedagang untuk berjualan disekitar Mesjid. Secara tidak langsung berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Halaman masjid dibawah payung menjadi tempat proses jual-beli dan tempat yang nyaman untuk bersantai.

Saat suara adzan berkumandang, banyak pengunjung yang bersiap-siap berwudhu dan masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat wajib, namun ternyata masih banyak juga pengunjung yang beraktivitas di halaman masjid.

Fungsi utama masjid seakan memudar.

Ironinya, para pengunjung yang tidak bertanggung jawab meninggalkan sampahnya dilingkungan masjid, sampah berserakan dimana-mana hingga bertumpuk. 

Tempat sampah yang disediakanpun meluap karena tak mampu menampung banyaknya sampah.

Tak heran banyak orang yang berkomentar pedas melihat foto-foto yang dibagikan di media sosial.

Masjid merupakan tempat beribadah umat muslim. Sudah sewajarnya masyarakat menjaga kebersihan dan kenyamanannya.

Bukankah Aceh dikenal dengan sebutan serambi Mekkah? Harusnya masyarakat paham betul bahwa Islam mengajarkan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. 

Tak lepas dari itu, pengurus/pemerintah memegang andil penting dalam permasalahan ini. 

Fasilitas yang memadai dan manajemen yang baik harus di perhatikan. Seperti persediaan tempat sampah yang terjangkau namun nyaman di pandang serta terdapat waktu terjadwal untuk pengosongan tempat sampah, peraturan tegas bagi orang yang membuang sampah sembarangan dan kebijakan bijak lainnya.

Dalam jangka waktu yg singkat, isu ini membuat pemerintah bergerak. Tadi pagi diturunkan tim kebersihan untuk mengangkut sampah yang bertumpuk. Namun tetap saja, harus ada kebijakan lebih lanjut terhadap permasalahan ini.

Ternyata banyak juga masyarakat yang peduli berinisiatif untuk memungut sampah di halaman masjid sore tadi. Jika dianalisis, pagi tadi masjid sudah bersih, namun ternyata aksi sore tadi masih menghasilkan sampah yang lumayan banyak. Bisa di bayangkan bagaimana tingkat kesadaran masyarakat. 

Dilihat dari sisi lain, banyak yang harus di perhatikan, mulai dari  keamanan untuk kelancaran arus lalu lintas dan parkir di sekitar mesjid, tempat penyimpanan alas kaki, kebersihan lantai halaman masjid, adanya tempat berjualan yang di perbolehkan serta mengubah kebiasaan jelek yang membuang sampah sembarangan.

Tentu masih banyak PR untuk kenyamanan Mesjid Raya Baiturrahman yang di cita-citakan. Namun cita-cita ini akan terwujud jika adanya kesadaran dari seluruh elemen masyarakat.

Aceh. baru-baru ini kian memanas dengan beberapa unggahan foto ‘icon’ Aceh yang dikotori oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Ya, foto Masjid Raya Baiturrahman dengan tumpukan sampah yg tersebar dimana-mana. Cukup media sosial, kabar ini dengan cepat menjadi isu yang banyak menuai komentar dunia Maya dan menjadi perbincangan hangat dimana-mana. 

Wajah baru Masjid Raya Baiturrahman dengan 12 payung elektrik ala Masjid Madinah yang di resmikan oleh bapak Wakil Presiden Yusuf Kalla 13 Mei lalu ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Mereka mengabadikan dirinya dengan berfoto ria di masjid ini dan mengunggah ke media sosial pribadinya.

Tentu saja hal ini positif sehingga mampu mendatangkan banyak wisatawan.

Jumlah pengunjung pun bertambah drastis saat lebaran, mayoritasnya adalah penduduk Aceh sendiri. Wajar saja, mereka memanfaatkan moment lebaran ini untuk berwisata religi bersama keluarganya mengunjungi masjid kebanggan. 

Tentu hal ini dimanfaatkan oleh pedagang untuk berjualan disekitar Mesjid. Secara tidak langsung berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Halaman masjid dibawah payung menjadi tempat proses jual-beli dan tempat yang nyaman untuk bersantai.

Saat suara adzan berkumandang, banyak pengunjung yang bersiap-siap berwudhu dan masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat wajib, namun ternyata masih banyak juga pengunjung yang beraktivitas di halaman masjid.

Fungsi utama masjid seakan memudar.

Ironinya, para pengunjung yang tidak bertanggung jawab meninggalkan sampahnya dilingkungan masjid, sampah berserakan dimana-mana hingga bertumpuk. 

Tempat sampah yang disediakanpun meluap karena tak mampu menampung banyaknya sampah.

Tak heran banyak orang yang berkomentar pedas melihat foto-foto yang dibagikan di media sosial.

Masjid merupakan tempat beribadah umat muslim. Sudah sewajarnya masyarakat menjaga kebersihan dan kenyamanannya.

Bukankah Aceh dikenal dengan sebutan serambi Mekkah? Harusnya masyarakat paham betul bahwa Islam mengajarkan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. 

Tak lepas dari itu, pengurus/pemerintah memegang andil penting dalam permasalahan ini. 

Fasilitas yang memadai dan manajemen yang baik harus di perhatikan. Seperti persediaan tempat sampah yang terjangkau namun nyaman di pandang serta terdapat waktu terjadwal untuk pengosongan tempat sampah, peraturan tegas bagi orang yang membuang sampah sembarangan dan kebijakan bijak lainnya.

Dalam jangka waktu yg singkat, isu ini membuat pemerintah bergerak. Tadi pagi diturunkan tim kebersihan untuk mengangkut sampah yang bertumpuk. Namun tetap saja, harus ada kebijakan lebih lanjut terhadap permasalahan ini.

Ternyata banyak juga masyarakat yang peduli berinisiatif untuk memungut sampah di halaman masjid sore tadi. Jika dianalisis, pagi tadi masjid sudah bersih, namun ternyata aksi sore tadi masih menghasilkan sampah yang lumayan banyak. Bisa di bayangkan bagaimana tingkat kesadaran masyarakat. 

Dilihat dari sisi lain, banyak yang harus di perhatikan, mulai dari  keamanan untuk kelancaran arus lalu lintas dan parkir di sekitar mesjid, tempat penyimpanan alas kaki, kebersihan lantai halaman masjid, adanya tempat berjualan yang di perbolehkan serta mengubah kebiasaan jelek yang membuang sampah sembarangan.

Tentu masih banyak PR untuk kenyamanan Mesjid Raya Baiturrahman yang di cita-citakan. Namun cita-cita ini akan terwujud jika adanya kesadaran dari seluruh elemen masyarakat.

Sebelah mata

Posted: Maret 29, 2017 in My Story

Kutelusuri ruang ruang hampa

Padahal terlihat jelas keramaian di mata

Tegur sapa tak lagi jadi pengikat

Sandiwara ntuk sekedar penyejuk hati

Perasaan tlah dibutakan zaman

Riuh pikuk Sosial menjadi santapan belaka

Aib bertebar bak primadona media

Bahkan prihatan akalan kecebong berdasi

Energi Berkelanjutan ~ Aceh

Posted: Maret 13, 2017 in My Story

Pelatihan Energi Berkelanjutan untuk Pemuda ~
Energi fosil, seperti minyak bumi yg kita gunakan saat ini sebagai sumber energi akan segera habis. 

Dan kini muncul energi berkelanjutan, salah satunya energi geothermal(panas bumi) yg menjadi pilihan terbaik saat ini. 

Di Aceh, terdapat 3 Daerah yang memiliki potensi untuk di bangun energi Geothermal, yaitu di Jaboi, Seulawah, dan Geuredong.
Byk orang lelah berfikir bgaimana cara utk menghasilkan energi yg segera habis ini, bukankah kita bisa membantu dengan hemat energi? Ya, untuk aku, kamu dan kita semua 😉 ~
Sangat senang rasanya mengikuti Pelatihan ini bareng teman teman Pemuda #AcehBesar , Ketawa teruss, serunya 😂
#energiberkelanjutan #geothermal

Apa inti tulisan ini?

Posted: Maret 2, 2017 in My Story

Ketika linangan mengalir mengikuti poros gravitasi

Tak ada hukum Apapun yg mampu menahan poros itu

Tipu daya diabaikan dari riuk pikuk massa

Kabur dari khalayak Takkan mampu menghapus memory kerancuan

Penantian menjadi harapan yg fiksi

Langkah seakan surut diterpa angin waktu

Kerelaan menjadi gebrakan revolusi melawan ombak pahit

Aceh Besar, 2 Maret 2017.

QF

Keterangan yg tertulis di Depan Mesjid Teungku Di Anjong #BandaAceh ini~
Meuseujid nyoe geupedong bak abad XVIII le Sayyid Abu Bakar Bin Husen Bafaqih, sidroe ulama dari Nanggroe Arab nyang bak dakwah islam rata teumpat. Teungku di Anjong geukira sibagoe ureueng keuramat, lom ngon geuboh lakab Teungku di Anjong.
Mesjid ini didirikan oleh Sayyid Abu Bakar bin Husin Bafaqih pada abad ke-18. Ulama dari negri Arab ini mengembara untuk mendakwahkan islam. Oleh Sebab Itulah beliau di anggap orang keramat dan mendapat gelar Teungku di Anjong.
Terdapat makam beliau di pekarangan mesjid ini.

.

.

.

.

Arsitektur yang unik pada bangunan ini, menarik hati saya untuk berkunjung kesini.

Ternyata oh ternyata Mesjid ini Penuh dengan situs sejarah.

Arsitektur Mesjid yg bertingkat ini memiliki makna tersendiri.

Lantai pertama disebut dengan hakikat, lantai kedua tarekat, dan lantai ketiga makfirat.
Mesjid ini dibangun sebagai tempat ibadah, pengajian, dan musyawarah masyarakat setempat.
Tgk di Anjong sangat berperan besar terhadap perkembangan islam di Aceh, pembayaran hutang thd kerajaan Inggris dan sebutan Aceh sebagai Serambi Mekkah. 

Makam Teungku Di Anjong juga menjadi tempat melakukan tradisi Peuleuh Kaoy  atau bernazar.
Banyak penziarah Asal Malaysia, Singapura, Persia, Yaman, Jakarta dsb yang berkunjung kesini.
#thelightofaceh 

#wonderfulindonesia 

#sejarahaceh

#wisatareligi

#wisatasejarah

Gempa Pidie Jaya, Aceh.

Posted: Desember 8, 2016 in My Story

Subuh pagi tgl 7 Desember 2016 pukul 05.30wib dikejutkan dengan alarm yg berbeda dengan biasanya, yeah alarm Sang Pencipta. Gempa berkekuatan 6,4SR yang berpusat di Pidie Jaya membangunkan seluruh masyarakat Aceh, tak terkecuali di Aceh Besar, rumah saya.

Yang biasanya jarang Sholat, Sholat pada pagi itu, yg biasanya telat sholat Subuh, bahkan mendengarkan kumandang Azan sebelum tiba waktunya Sholat. Sungguh besar kuasa Allah SWT. 

Lelah yg masih terasa mengingat kemarin lusa baru selesainya diksar Komite Relawan Nusantara (KRN) Aceh selama 3 hari dengan sejuta cerita lelah membuatku malas-malasan di pagi cerah ini. 

Seketika, aku melanjutkan aktivitas seperti biasanya sebelum mengetahui apa yg terjadi di wilayah saudara-saudara ku di Pidie Jaya. 

Memikirkan bahwa harus belanja hari ini untuk persiapan piknik esok hari ke destinasi wisata sejarah Benteng Indrapatra dengan teman KRN Aceh.

Mengingat aku hidup di zaman canggihnya tekhnologi membuatku mengikuti arus dunia Maya Dengan rajinnya membuka media sosial. Dan aku mendapatkan berita terkait gempa subuh tadi. Inalillahi wa innailaihi raji’un.. sungguh telah terjadi musibah gempa dasyat yg banyak memakan korban. Percaya tak percaya dengan berita yg ada di sosial media, berita itu dibenarkan dengan melihat berita langsung dari semua stasiun TV.

Grup di Line, WA, serta sosial media lain pun tak mau kalah dengan kericuhan notifikasinya. Namun hanya satu grup yang menarik perhatianku. Yah grup relawan kami, KRN Aceh. Beberapa foto bangunan hancur akibat dampak pagi tadi di upload di grup tsb. Dengan kalimat sederhana sang korel (komandan Relawan) “Ayo yg siap berangkat silahkan prepare”. Yeah kalimat sederhana namun penuh semangat menggelega. 

Byk mereka yg ikut, namun banyak pula yg berhalangan. Apa daya aku masih belum memutuskan, mengingat tubuh ini masih lelah dengan kegiatan lusa kemarin.

Beberapa saat kemudian, telpon pun berdering, ternyata dari korel, entah kenapa begitu senang hati ini melihat panggilan ini, rasanya pikiran sudah lari kemana mana membayangkan bahwa aku ikut menjadi relawan ke Pijay. Eits, kita angkat dulu telponnya, maksud korel menelepon adalah utk menanyakan apa aku bisa ikut ke Pijay atau tidak, karna akan dibutuhkan tenaga medis juga kesana. Yah apalah daya badan yg lelah ini jika dibandingkan dengan kemauan hati dengan penuh semangat. Aku pun memutuskan untuk pergi setelah meminta izin ortu dengan pesan sederhana mereka untuk hati-hati dan jaga diri.

Baik Tim pertama adalah tim evakuasi bergerak tepat pukul 11.00wib dari kantor Rumah Zakat Aceh. Disinilah menjadi awal kisah kami selama di Pidie Jaya.

Tim pertama: saya, bg Izzatul, Icut, Riki, Jalal dan Khadafi.

~to be continue..