Super shock! dan gak mau lagi nulisss 😭 kala itu.

Pagi itu sekumpulan jurnalis Aceh berkumpul tepat di depan Mesjid Raya Baiturrahman menggelar aksi k

Iklan

30/07/2017 Musisi Aceh ikut memperingati Global Tiger Day 2017 di Depan Mesjid Raya Baiturrahman (Foto: Qurra)

Banda Aceh-Ratusan pemuda Aceh memperingati Global Tiger Day 2017 pada tanggal 30 Juli 2017. Peringatan ini berupa parade jalan dihiasi atribut harimau dengan rute jalan dari Taman Sari, melewati pendopo, Mesjid Raya dan kembali ke Taman Sari yang diisi dengan sejumlah rangkaian kegiatan.

Koordinator Earth Hour Banda Aceh, Rivana Amelia mengatakan bahwa hari ini 30 Juli 2017 kita memperingati Global Tiger Day yang dilaksanakan serentak di sepuluh kota se-Sumatera. Sebenarnya diperingati tanggal 29 Juli, namun karena kesepakatan se-Indonesia, jadi kita laksanakan pada hari ini.

“Di Aceh sendiri, pelaksanaannya berupa parade long march yaitu berjalan dari Taman Sari ke Mesjid Raya, kemudian di depan Mesjid Raya kita melakukan serangkaian kegiatan, yaitu orasi, penampilan puisi, musik dan flasmob, selanjutnya kembali ketitik awal Taman Sari untuk penutupan acara. Kegiatan ini diselenggarakan oleh komunitas earth hour dan diikuti oleh pemuda-pemuda yang tergabung dalam berbagai komunitas di Aceh yang peduli terhadap lingkungan dan satwa”, tambah Amel.

“Sebelum menuju acara puncak, kita punya kegiatan pre-event, yaitu sosialisasi ke sekolah-sekolah, kultwit untuk anak-anak tentang seberapa penting sebenarnya harimau itu harus diselamatkan. Jadi sekolah yang sudah kita datangi dinamai dengan Tiger Goes To School. Sekolah yang sudah didatangi yaitu sekolah SMTI dan Labschool”, jelas Amel.

Kegiatan ini dibuka oleh Sekda Aceh Bapak Drs. Dermawan dan dilanjutkan parade jalan. Turut hadir Ibu Darwati Agani dan Ibu Illiza Saaduddin Djamal.

“Saya memberikan apresiasi kepada adik-adik komunitas semuanya yang sudah menggagas pelaksanaan acara saat ini. Kita tahu bahwa harimau Sumatra semakin hari semakin menyusut populasinya. Maka kita semua wajib mendukung penyelamatan hewan langka dan dengan ada kegiatan seperti ini masyarakat semua sadar bahwa kita harus melestarikan hewan langka yang ada di Indonesia”, apresiasi Ibu Darwati.

Dalam sambutannya, Bapak Drs. Dermawan mengatakan peringatan Global Tiger Day ini adalah salah satu momen untuk  mengajak masyarakat memberi perhatian pada hewan langka ini. Mudah-mudahan dengan sejumlah rangkaian acara yang dilaksanakan hari ini, semangat menjaga populasi harimau di daerah kita dapat terus ditingkatkan, sehingga keseimbangan ekosistem alam Aceh senantiasa terjaga dan tetap lestari.

Amel berharap tidak hanya sampai hari puncak ini, kedepannya kita juga akan terus sosialisasi dan masih menunggu konfirmasi dari beberapa sekolah yang sedang kita targetkan. Harapannya dengan kegiatan ini masyarakat mengetahui seberapa pentingnya satwa harus dilindungi dan tadi juga dibuka acaranya oleh Ibu Darwati, Ibu Illiza dan Bapak Sekda Aceh, nah kita berharap mereka hadir tidak hanya memberikan orasi, tapi juga dapat menjadi gaung kepada masyarakat tentang penyelamatan satwa itu.

Mawardi Ali, Bupati Aceh Besar (Foto: HARIANACEH.co.id/ Qurra)

 

HARIANACEH.co.id, Aceh Besar — Ratusan masyarakat memadati pelabuhan Lamteng dalam Festival Pulo Aceh yang berlangsung 22- 23 Juli 2017. Kegiatan ini di gelar oleh Dinas Pariwisata Aceh, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Aceh Besar, Badan Pengusahaa Kawasan Sabang dan Lintas Komunitas dengan tema “Eksplorasi Destinasi Pulo Aceh”.

Banyak rangkaian kegiatan yang berlangsung, diantaranya Camping, Photo Hunting, Lomba Mancing, Permainan Rakyat, Lomba Mewarnai, Funbike, Aksi bersih pantai dan Penanaman 1000 pohon Mangrove. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan penampilan seni dan budaya di atas kapal, artis lokal, Jet sky, Pameran, serta kuliner yang ada di sekitar panggung utama.

Bupati Aceh Besar, Mawardi mengatakan bahwa kita berkomitmen membangun pariwisata di Pulo Aceh. Kita akan membuat master plan wisata gugusan pulau dari Ujung Pancu hingga Melingge yang mencakup tempat Snorkeling, Diving dan pantai yang bagus. Kita harus mendorong travel dan mengajak pelaku usaha yang bisa bekerjasama untuk mencakup penginapan, makan, transportasi dan sebagainya.

“Akses jaringan telepon dan internet disini masih sangat kurang, jadi saya sudah sampaikan untuk mendirikan tower dengan pihak Telekomunikasi. Dari segi infrastruktur, kita juga bekerjasama dengan BPKS, jadi BPKS sudah membuat jalan lingkar, dan direncanakan untuk pembangunan jembatan antara Pulo Nasi dan Pulo Breuh. Disini kita harus mengembangkan fasilitas, dan saya yakin Pulo Aceh akan maju”, tutup Mawardi.[qf]

Editor: Ferdian Azwar

Read more: https://www.harianaceh.co.id/2017/07/25/festival-pulo-aceh-mawardi-ali-prioritas-benahi-infrastruktur/#ixzz4sjPGGahi

Yayasan Lamjabat Tanam 1000 Mangrove di Festival Pulo Aceh (Foto: HARIANACEH.co.id/ Qurra)

HARIANACEH.co.id, Aceh Besar — Yayasan Lamjabat memeriahkan Festival Pulo Aceh dengan penanaman 1000 pohon mangrove di Gampong Alue Riyeueng, Minggu 23 Juli 2017. Penanaman pohon berlangsung sejak pagi hari diikuti oleh puluhan siswa SMA dan mahsiswa.

Koordinator penanaman pohon mangrove, Sri Agustina mengatakan Yayasan Lamjabat menggelar kegiatan penanaman pohon dalam salah satu agenda Festival Pulo Aceh. Kegiatan ini didukung oleh siswa dari SMA N 1 dan SMA N 2 Pulo Aceh serta mahasiswa dari program KKN UGM. Kegiatan ini kami laksanakan sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan lingkungan.

“Kita lihat di Pulo Aceh, pohon mangrove hanya terdapat di beberapa titik saja dan sudah sangat sedikit jumlahnya, dan lokasi Alue Riyeueng ini merupakan lokasi yang dipilih untuk menanam mangrove kali ini. Lokasinya kurang lebih berjarak 5 km dari laut”, jelas Sri.

Sri menambahkan bahwa terdapat sekitar 500 pohon mangrove yang ditanam, tapi sebenarnya masih ada 500 pohon lagi yang tidak sempat kita tanam karena ada beberapa kegiatan yang bersamaan waktunya. Tapi kami berharap nantinya pohon yang belum ditanam tersebut ada keterlibatan masyarakat untuk melanjutkan kembali.

Read more: https://www.harianaceh.co.id/2017/07/25/yayasan-lamjabat-tanam-1000-mangrove-di-festival-pulo-aceh/#ixzz4sjR9nzMy

Aceh. baru-baru ini kian memanas dengan beberapa unggahan foto ‘icon’ Aceh yang dikotori oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Ya, foto Masjid Raya Baiturrahman dengan tumpukan sampah yg tersebar dimana-mana. Cukup media sosial, kabar ini dengan cepat menjadi isu yang banyak menuai komentar dunia Maya dan menjadi perbincangan hangat dimana-mana. 

Wajah baru Masjid Raya Baiturrahman dengan 12 payung elektrik ala Masjid Madinah yang di resmikan oleh bapak Wakil Presiden Yusuf Kalla 13 Mei lalu ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Mereka mengabadikan dirinya dengan berfoto ria di masjid ini dan mengunggah ke media sosial pribadinya.

Tentu saja hal ini positif sehingga mampu mendatangkan banyak wisatawan.

Jumlah pengunjung pun bertambah drastis saat lebaran, mayoritasnya adalah penduduk Aceh sendiri. Wajar saja, mereka memanfaatkan moment lebaran ini untuk berwisata religi bersama keluarganya mengunjungi masjid kebanggan. 

Tentu hal ini dimanfaatkan oleh pedagang untuk berjualan disekitar Mesjid. Secara tidak langsung berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Halaman masjid dibawah payung menjadi tempat proses jual-beli dan tempat yang nyaman untuk bersantai.

Saat suara adzan berkumandang, banyak pengunjung yang bersiap-siap berwudhu dan masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat wajib, namun ternyata masih banyak juga pengunjung yang beraktivitas di halaman masjid.

Fungsi utama masjid seakan memudar.

Ironinya, para pengunjung yang tidak bertanggung jawab meninggalkan sampahnya dilingkungan masjid, sampah berserakan dimana-mana hingga bertumpuk. 

Tempat sampah yang disediakanpun meluap karena tak mampu menampung banyaknya sampah.

Tak heran banyak orang yang berkomentar pedas melihat foto-foto yang dibagikan di media sosial.

Masjid merupakan tempat beribadah umat muslim. Sudah sewajarnya masyarakat menjaga kebersihan dan kenyamanannya.

Bukankah Aceh dikenal dengan sebutan serambi Mekkah? Harusnya masyarakat paham betul bahwa Islam mengajarkan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. 

Tak lepas dari itu, pengurus/pemerintah memegang andil penting dalam permasalahan ini. 

Fasilitas yang memadai dan manajemen yang baik harus di perhatikan. Seperti persediaan tempat sampah yang terjangkau namun nyaman di pandang serta terdapat waktu terjadwal untuk pengosongan tempat sampah, peraturan tegas bagi orang yang membuang sampah sembarangan dan kebijakan bijak lainnya.

Dalam jangka waktu yg singkat, isu ini membuat pemerintah bergerak. Tadi pagi diturunkan tim kebersihan untuk mengangkut sampah yang bertumpuk. Namun tetap saja, harus ada kebijakan lebih lanjut terhadap permasalahan ini.

Ternyata banyak juga masyarakat yang peduli berinisiatif untuk memungut sampah di halaman masjid sore tadi. Jika dianalisis, pagi tadi masjid sudah bersih, namun ternyata aksi sore tadi masih menghasilkan sampah yang lumayan banyak. Bisa di bayangkan bagaimana tingkat kesadaran masyarakat. 

Dilihat dari sisi lain, banyak yang harus di perhatikan, mulai dari  keamanan untuk kelancaran arus lalu lintas dan parkir di sekitar mesjid, tempat penyimpanan alas kaki, kebersihan lantai halaman masjid, adanya tempat berjualan yang di perbolehkan serta mengubah kebiasaan jelek yang membuang sampah sembarangan.

Tentu masih banyak PR untuk kenyamanan Mesjid Raya Baiturrahman yang di cita-citakan. Namun cita-cita ini akan terwujud jika adanya kesadaran dari seluruh elemen masyarakat.

HARIANACEH.co.id, BANDA ACEH – Puluhan pemuda-pemudi Banda Aceh mengikuti roadshow kompetisi Socio Digi Leaders (SDL) 2017 yang diselenggarakan oleh Telkom di Gedung Digital Innovation Lounge (DILo), Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, 14 Juni 2017.

Ketua Program Socio Digi Telkom, Yuddy, menjelaskan bahwa kompetisi SDL ini bertujuan untuk memfasilitasi anak muda di seluruh Indonesia guna mengembangkan idenya dalam bentuk apapun, yang mampu memperbaiki kehidupan masyarakat.

Kompetisi ini merupakan yang kedua dilaksanakan di Indonesia, namun perbedaannya jika di tahun lalu idenya dituangkan dalam bentuk aplikasi, namun tahun ini ide kreatif boleh berbentuk apa saja, tidak mesti aplikasi dan kali ini boleh diikuti oleh warga asing. Para peserta cukup membuat video tentang Ide kreatif berdurasi 1,5 menit dan di upload ke youtube sebelum tanggal 30 Juni 2017. Setelah itu akan diambil 50 team terpilih yang akan diseleksi dengan presentasi secara online, kemudian 25 team terbaik akan mengikuti boothcamp di Bali dan mengikuti final presentation. Bocoran sedikit, pemenang SDL 2017 nanti akan diajak jalan-jalan ke perusahaan digital yang ada di Eropa,” ungkap Yuddy.

Yuddy mengatakan jika anak muda di Aceh sangat berpotensi dalam kompetisi SDL. Alasannya, Aceh ini sangat spesifik, bisa jadi idenya sangat-sangat berbeda dan unik.

Alasannya, tahun lalu kita tidak ngapan-ngapain di Aceh, tau-tau ada peserta dari Aceh. Kenapa kita khusus datang ke Aceh, karena yang kita khawatirkan itu anak Aceh malu-malu, jadi kedatangan kami kesini ingin memberikan keyakinan ke Aceh, bahwa kalian bisa karena tahun lalu pemenangnya bahkan bukan dari Jawa. Jadi jangan takut untuk bersaing.

“Saya sangat ingin sebanyak-banyaknya peserta adalah dari Aceh, tunjukkan bahwa Aceh itu luar biasa, Aceh itu punya sesuatu yang bisa dibanggakan, dan mampu mengalahkan siapapun juga di Indonesia maupun Internasional saat ini,” ajak Yuddy.

Seperti diketahui, SDL merupakan program untuk mendorong sekaligus menjaring talenta muda berbakat yang memiliki kepekaan sosial untuk mengimplementasikan ide dan gagasannya. Berbeda dengan tahun sebelumnya, SDL 2017 tidak hanya sebatas solusi berbasis aplikasi digital dan pesertanya pun tak terbatas dari dalam negeri saja. SDL juga merupakan salah satu cara untuk mendorong generasi muda berinovasi dan berkontribusi untuk dunia yang lebih baik. [qf]

 

Editor: Eko Densa

Read more: https://www.harianaceh.co.id/2017/06/15/puluhan-pemuda-aceh-ikuti-roadshow-kompetisi-socio-digi-leaders/#ixzz4shoo0Yn0

Tidak terasa sudah menginjak 19 Ramadhan, menghitung hari menjelang hari kemenangan umat muslim. Cuaca panas yang cukup menggoda selama ini tidak mengurangi semangat masyarakat Aceh dalam melakukan aktivitas dan menjalankan ibadah puasa. Ya, salah satunya ibu Sarah(59) yang memanfaatkan setiap bulan suci Ramadhan untuk mencari rezeki. Janda yang tinggal di Gampong Punie, Aceh Besar ini sudah mulai menerima pesanan kue ‘seupet’ sejak minggu pertama puasa. Pekerjaan yang sejak gadis ia geluti ternyata menjadi makanan primadona dari dulu hingga sekarang.

Kue khas Aceh ini memiliki rasa yang gurih, enak dan bentuknya bervariasi, seperti seperempat lingkaran dan berbentuk lonjong seperti rokok, tidak heran penikmatnya mulai dari anak anak, remaja hingga orang tua. Tidak hanya itu, saat ini sudah ada modifiikasi rasa seperti rasa coklat atau kopi.

Dari bibir jalan terlihat Ibu Sarah sedang ‘thot’ atau membakar kue seupet di bantu oleh tetangganya ibu aminah (65) saat dikunjungi jurnalis HAI. Suasana perkampungan masih sangat alami disini, mereka membuat kue tersebut dihalaman samping rumah Ibu Aminah yang berlapiskan kayu, hewan ternak seperti ayam dilepas dipekarangan rumahnya yang beralaskan tanah coklat, terdapat tumpukan serabut kelapa tepat didepan tempat pengolahan, ditambah udara yang diselimuti asap yang menambah suasana menjadi lebih berasa.

Terlihat seorang ibu-ibu mengantarkan bahan kue untuk di bakar. Nah, untuk satu kilo kue seupet dipatok harga sebesar 70.000 rupiah untuk ongkos pembuatannya saja, sedangkan bahannya dibawa sendiri oleh pelanggan. Untuk bahan pembuatannya tidak ribet, yaitu tepung, gula, telur dan santan.

Proses pembuatannya cukup menarik, bahan yang sudah diracik oleh ibu Sarah di letakkan kedalam cetakan yang terbuat dari besi yang memiliki ukiran khas didalamnya, kemudian di bakar.

“Cetakan nyoe kana sigohlom lon lahee”, sebut wanita paruh baya yang juga bekerja sebagai tukang cuci. Ternyata keahliannya merupakan turun temurun dari ibunya yang saat ini tidak sanggup lagi bekerja di usianya yang sudah cukup renta.

Tempat pembakarannya pun cukup sederhana, sebuah linggis yang ditopang dengan batu bata dan sebatang pohon pisang sebagai penyangga gagang cetakan. Proses pembakarannya menggunakan serabut kelapa kering dengan api yang tidak terlalu besar. Tidak perlu menunggu waktu yang lama, kemudian cetakannya dibalik sebentar agar merata dan diangkat.

Dengan cekatan ibu sarah memindahkan kue dari cetakan yang panas menggunakan jari jemari. Dan langsung saja digulung atau dilipat menjadi 4 dan di jepit dengan kaleng. Prosesnya dilakukan secara berulang tanpa berhenti. Ada enam buah cetakan yang digunakan, dan dibakar sekaligus, jadi butuh kecepatan dalam proses pembakaran agar kue tidak hangus. “Meunyo mantong muda, biasa jih cetakan lebeh dari nam boh, teuma nyoe ka tuha, hana sanggop lee”, ungkap Ibu Sarah sambil menunjukkan ke arah tangannya yang tidak begitu kuat lagi.

Jumlah pemesanan pada bulan Ramadhan biasanya sekitar 15- 20 kg, lumayan hasilnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Ibu Sarah dan keluarganya.