ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN

Posted: Maret 27, 2013 in Ilmu Kebidanan

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN

Diajukan untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah
Biologi Dasar dan Perkembangan

Oleh :
Tingkat I-A

Kelompok 2

• Riska Maryaul Fitri
• Salmiati
• Siti Nurul Qamar
• Yunita
• Zulvinasari Zakaria

Dosen Pembimbing :

Cut Yuniwati, SKM, MKes

PRODI D-III KEBIDANAN BANDA ACEH
POLTEKKES KEMENKES RI ACEH
TAHUN AJARAN 2012/2013

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1

BAB II. PEMBAHASAN 2
A. Pengertian pernafasan 2
B. Anatomi sistem pernafasan 2
C. Mekanisme pernafasan 6
D. Kelainan proses pernafasan 7
E. Sistem pernafasan pada masa kehamilan 9
F. Sistem pernafasan pada masa nifas …………………..13

BAB III. PENUTUP 14
A. Kesimpulan 14
B. Saran 14

DAFTAR PUSTAKA 15

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan kudrah dan iradah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN”.
Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, karena dengan diutusnya beliau ke permukaan bumi ini telah membawa rahmat bagi sekalian alam.
Dalam kesempatan ini kami sebagai penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu”CUT YUNIWATI, SKM, MKes” selaku dosen pembimbing dan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kejanggalan dan kekurangan, maka dengan penuh harapan kami semua pihak penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Banda Aceh, 19 Desember 2012

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Fungsi sistem pernafasan adalah mengambil oksigen (O2) dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk mentranspor karbon dioksida(CO2) yang dihasilkan oleh sel-sel tubuh kembali ke atmosfer. Organ –organ respiratorik ber4fungsi dalam :
Produksi bicara, membantu proses dalam berbicara.
Keseimbangan asam basa dalam darah dan jaringan tubuh manusia
Pertahanan tubuh melawan benda asing, organisme asing yang masuk melalui proses pernapasan dalam tubuh.
Mengatur hormonal tekanan darah dan keseimbangan hormon dalam darah
Respirasi melibatkan proses – proses berikut ini
Ventilasi pulmonar( pernafasan) adalah jalan masuk dan keluar udara dari saluran pernafasan dan paru-paru.
Respirasi eksternal adalah difusi oksigen dan karbon dioksida antara udara dalam paru-paru dan kapiler pulmonal
Respirasi internal adalah difusi oksigen dan karbon dioksida antara sel darah dan sel-sel jaringan
Respirasi seluler adalah penggunaan oksigen oleh sel-sel tubuh untuk produksi energi dan pelepasan produk oksidasi CO2 dan air oleh sel-sel tubuh.

1.2 Masalah:
1. Apakah pengertian dari pernafasan (respirasi)
2. bagaimana anatomi sistem pernafasan pada ibu hamil ?
3. Bagaimanakah mekanisme atau proses pernafasan pada ibu hamil ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami tentang pernafasan
2. Mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan anatomi sitem pernafasan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pernafasan

Pernafasan ( respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung (oksigen) ke dalam tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2(karbondioksida) sebagai sisab dari oksidasi keluar dari tubuh. Penghisapan udara ini disebut inspirasi dan menhembuskan disebut ekspirasi.
Jadi, dalam paru-paru terjadi pertukaran zat antara dan oksigen ditarik dari udara masuk ke dalam darah dan CO2 akan dikeluarkan dari darah secara osmose. Seterusnya CO2 akan dikeluarkan melalui tractus respiratorius(jalan pernafasan) dan masuk ke dalam tubuh melalui kapiler –kapiler vena pulmonalis kemudian masuk ken serambi kiri jantung (atrium sinistra) kemudian ke aorta keseluruh tubuh disini terjadi oksidasi sebagai ampas dari pembakaran adalah CO2 dan zat ini dikeluarkan melalui peredaran darah vena masuk ke jantung, ke bilik kanan,dan dan dari sini keluar melalui arteri pulmonalis ke jaringan-jaringan paru-paru akhirnya dikeluarkan menembus lapisan epitel dari alveoli. Proses pengeluaran CO2 ini adalah sebagian dari sisa metabolisme sedangkan sisa dari metabolisme lainnya akan dikeluarkan melalui traktus urogenitalis, dan kulit.

2.2 Anatomi Sistem Pernafasan

Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas dan paru- paru beserta pembungkusnya ( pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Di dalamrongga dada terdapat juga jantung di dalamnya. Rongga dada dipisahkan dengan rongga perut oleh diafragma.
1. Hidung = Naso = Nasal
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang( cavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi). Didalam terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran-kotoran yang masuk kedalam lubang hidung.
1. Bagian luar dinding terdiri dari kulit
2. Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan.
3. Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung (konka nasalis), yang berjumlah 3 buah:
a) konka nasalis inferior ( karang hidup bagian bawah)
b) konka nasalis media(karang hidung bagian tengah)
c) konka nasalis superior(karang hidung bagian atas).
Diantara konka-konka ini terdapat 3 buah lekukan meatus yaitu meatus superior (lekukan bagian atas), meatus medialis(lekukan bagian tengah dan meatus inferior (lekukan bagian bawah). Meatus-meatus inilah yang dilewati oleh udara pernafasan, sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan dengan tekak, lubang ini disebut koana.
Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, keatas rongga hidung berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu sinus maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang dahi, sinus sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus etmodialis pada rongga tulang tapis.
Pada sinus etmodialis, keluar ujung-ujung saraf penciuman yang menuju ke konka nasalis. Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel tersebut terutama terdapat di bagianb atas. Pada hidung di bagian mukosa terdapat serabut-serabut syaraf atau respektor dari saraf penciuman disebut nervus olfaktorius.
Disebelah belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langit-langit terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba auditiva eustaki, yang menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba lakminaris.
Fungsi hidung, terdiri dari
1. bekerja sebagai saluran udara pernafasan
2. sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung
3. dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa
4. membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir (mukosa) atau hidung.

2. Tekak=Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ lain keatas berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana. Ke depan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan ini bernama istmus fausium. Ke bawah terdapat dua lubang, ke depan lubang laring, ke belakang lubang esofagus.
Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga dibeberapa tempat terdapat folikel getah bening. Perkumpulan getah bening ini dinamakan adenoid. Disebelahnya terdapat 2 buah tonsilkiri dan kanan dari tekak. Di sebelah belakang terdapat epiglotis( empang tenggorok) yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan makanan.
Rongga tekak dibagi dalam 3 bagian:
1. bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut nasofaring.
2. Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut orofaring
3. Bagian bawah sekali dinamakan laringgofaring.

3. Pangkal Tenggorokan(Laring)
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring.
Laring terdiri dari 5 tulang rawan antara lain:
1. Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun sangat jelas terlihat pada pria.
2. Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk beker
3. Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk cincin
4. Kartilago epiglotis (1 buah).
Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang dilapisi oleh sel epiteliumnberlapis. Proses pembentukan suara merupakan hasil kerjasama antara rongga mulut, rongga hidung, laring, lidah dan bibir. Perbedaan suara seseorang tergsantung pada tebal dan panjangnya pita suara. Pita suara pria jauh lebih tebal daripada pita suara wanita.

4. Batang Tenggorokan ( Trakea)
Merupakan lanjutan dari laring yang terbentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia,hanya bergerak kearah luar.
Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.

5. Cabang Tenggorokan ( Bronkus)
Bronkus terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri, bronkus lobaris kanan ( 3 lobus) dan bronkus lobaris kiri ( 2 bronkus).bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental. Bronkus segmentalisini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki: arteri, limfatik dan saraf.
• Bronkiolus
Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan nafas.
• Bronkiolus terminalis
Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis( yang mempunyai kelenjar lendir dan silia)
• Bronkiolus respiratori
Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respirstori. Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara lain jalan nafas konduksi dan jalan udara pertukaran gas.
• Duktus alveolar dan sakus alveolar
Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar. Dan kemudian menjadi alvioli.

6. Alveoli
Merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2.
Terdiri atas 3 tipe:
Sel-sel alveolar tipe I : sel epitel yang membentuk dinding alveoli.
Sel-sel alveolar tipe II: sel yang aktif secara metabolik dan mensekresikan surfaktan ( suatu fosfolifid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)ahanan
Sel-sel alveolar tipe III: makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan.

7. Paru – paru
Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut. Terletak dalam rongga dada atau toraks. Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh dareah besar. Setiap paru mempunyai apeks dan basis, paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus dan fisura interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus. Lobus-lobus tersebut terbagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya.

8. pleura
Merupakan lapisan tipisyang mengandung kolagen dan jaringan elastis. Terbagi menjadi 2:
Pleura perietalis yaitu yang melapisi rongga dada.
Pleura viseralis yaitu yang menyelubungi setiap paru-paru..
Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernafsan. Juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru.

2.3 Mekanisme Pernafasan
Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur sekalipun karma sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom.
A. Respirasi
1.Repirasi luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler dan merupakan pertukaran O2 dan CO2 antara darah dan udara.
2. Respirasi dalam adalah pernapasan yang terjadi antara darah
dalam kapiler dengan sel-sel tubuh dan merupakan pertukaran O2 dan CO2
dari aliran darah ke seluruh tubuh.
B. Jenis Respirasi
1. Pernapasan Dada
Merupakan adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk.
Fase inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan diluar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.
Fase ekspirasi. Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
2. Pernapasan perut
Merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada.
Fase Inspirasi. Pada fase ini otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya rongga dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk.
Fase Ekspirasi.
Fase ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar, akibatnya udara keluar dari paru-paru.
3. Volume Udara Pernafasan
Dalam keadaan normal, volume udara paru-paru manusia mencapai 4500 cc. Udara ini dikenal sebagai kapasitas total udara pernapasan manusia. Besarnya volume udara pernapasan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain ukuran alat pernapasan, kemampuan dan kebiasaan bernapas, serta kondisi kesehatan.
4. Pertukaran O2 Dan CO2 Dalam Pernafasan
Jumlah oksigen yang diambil melalui udara pernapasan tergantung pada kebutuhan dan hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh jenis pekerjaan, ukuran tubuh, serta jumlah maupun jenis bahan makanan yang dimakan. Dalam keadaan biasa, manusia membutuhkan sekitar 300 cc oksigen sehari (24 jam) atau sekitar 0,5 cc tiap menit.
Kebutuhan tersebut berbanding lurus dengan volume udara inspirasi dan ekspirasi biasa kecuali dalam keadaan tertentu saat konsentrasi oksigen udara berkurang. Oksigen yang dibutuhkan berdifusi masuk ke darah dalam kapiler darah yang menyelubungi alveolus. Selanjutnya, sebagian besar oksigen diikat oleh zat warna darah atau pigmen darah (hemoglobin) untuk diangkut ke sel-sel jaringan tubuh.
5. Proses Kimiawi Respirasi Pada Manusia
1. Pembuangan CO2 dari paru-paru : H + HCO3 H2+CO3 ¬H2 + CO2
2. Pengikatan oksigen oleh hemoglobin : Hb + O2 Hb O2
3.Pemisahan oksigen dari hemoglobin ke cairan sel : : Hb O2 Hb O2
4. Pengangkutan karbohidrat di dalam tubuh : : CO2 + H2O H2+CO2

2.4 Kelainan Proses Pernapasan
Alat- alat pernapasan merupakan organ- organ tubuh yang sangat penting. Jika alat- alat ini terganggu karena penyakit atau kelainan maka proses pernapasan akan terganggu, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Berikut akan diuraikan beberapa macam gangguan yang umum terjadi pada saluran pernapasan manusia.
1. Influenza (Flu)
Penyakit yang disebabkan oleh virus influenza. Gejala yang ditimbulkan antara lain pilek, hidung tersumbat, bersin- bersin, dan tenggorokan terasa gatal.

2. Asma(Sesak napas)
Merupakan suatu penyakit penyumbatan saluran pernapasan yang disebabkan alergi terhadap rambut, bulu, debu, atau tekanan psikologis. Asma bersifat menurun.
3. Tuberkulosis(TBC)
Penyakit paru- paru yang diakibatkan serangan bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Difusi oksigen akan terganggu karena adanya bintil- bintil atau peradangan pada dinding alveolus. Jika bagian paru- paru yang diserang meluas, sel- selnya mati dan paru- paru mengecil. Akibatnya napas penderita terengah-engah.
4. Macam- macam peradangan pada sistem pernapasan manusia:
a. Rinitis
Radang pada rongga hidung akibat infeksi oleh
Virus, misalnya virus influenza. Rinitis juga dapat terjadi karena reaksi terhadap perubahan cuaca, serbuk sari, dan debu. Produksi lendir (ingus) meningkat.
b. Faringingitis
Radang pada faring akibat infeksi oleh bakteri Streptococcus. Tenggorokan sakit dan tampak berwarna merah. Penderita hendaknya istirahat dan diberi antibiotic.
c. Laringitis
Radang pada laring. Penderita serak atau kehilangan suara. Penyebabnya antara lain karena infeksi, terlalu banyak merokok, minum alcohol, atau banyak bicara.
d. Bronkitis
Radang pada cabang batang tenggorokan akibat infeksi. Penderita mengalami demam, menghasilkan banyak lendir yang menyumbat batang tenggorokan sehingga penderita sesak napas.
e. Sinusitis,
Radang pada sinus. Sinus letaknya di daerah pipi di kiri dan kanan batang hidung, biasanya di dalam sinus terkumpul nanah yang harus dibuang melalui operasi.
5. Asfiksi
Gangguan pernapasan pada waktu pengangkutan oksigen yang disebabkan oleh tenggelam (akibatnya terisi air), pneumonia (akibatnya alveolus terisi lendir dan cairan limfa), keracunan CO atau HCN, atau gangguan sitokrom(enzim pernapasan).
6. Asidosis
Kenaikan kadar asam karbonat dan asam bikarbonat dalam darah, sehingga pernapasan terganggu.
7. Difteri
Penyumbatan pada rongga faring maupun laring oleh lendir yang dihasilkan oleh kuman difteri.
8. Emfisema
Penyakit pembengkakan paru-paru karena pembuluh darahnya kemasukan udara.
9. Pneumonia
Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus atau bakteri pada alveolus yang menyebabkan terjadinya radang paru-paru.
10. Wajah adenoid (kesan wajah bodoh)
Disebabkan adanya penyempitan saluran napas karena pembengkakan kelenjar limfa atau polip, pembengkakan ditekak atau amandel.
11. Kanker paru-paru
Mempengaruhi pertukaran gas di paru-paru. Kanker paru-paru dapat menjalar keseluruh tubuh. Kanker paru-paru sangat berhubungan dengan kebiasaan merokok (75% penderita adalah perokok). Perokok pasif juga dapat terkena kanker paru-paru. Penyebab lain adalah penderita menghirup debu asbes kromium, produk petroleum, dan radiasi ionisasi.

2.5. sistem pernapasan pada masa kehamilan
Usaha pernapasan ibu harus meningkat pada kehamilan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolik jaringan ibu dan janin. Pada akhir kehamilan konsumsi oksigen meningkat sebesar 16-20%. Sistem pernapasan juga di pengaruhi oleh volume uterus yang membesar. Dalam hal cadangan fisiologi,stres yang ditimbulkan oleh kehamilan pada sistem pernapasan lebih kecil dibandingkan dengan peningkatan yang dapat diukur saat olahraga. Hal ini berbeda dengan proporsi cadangan fisiologis kardiovaskuler yang dibutuhkan selama kehamilan yang Jauh lebih besar. Dampak klinis dari perbedaan ini adalah bahwa pasien dengan penyakit pernapasan lebih kecil kemungkinanannya mengalami dibandingkan dengan perburukan mereka yang mengidap penyakit jantung.

1. anatomi
Pada awal kehamilan dan dengan demikian bukan di sebabkan oleh uterus, diafragma terdorong keatas sebanyak 4 cm. Gerakan respirasi diafragma meningkat dan terjadi peningkatan iga bagian bawah sternal dari 68° pada awal kehamilan menjadi 103° pada akhir kehamilan. Peningkatan kompensatorik garis tengah toraks sebesar 2 cm ini berarti volume rongga toraks hampir sama dengan keadaan sebelum hamil. Diafragma melakukan sebagian besar kerja respirasi, bernafas lebih bersifat torakalis daripada abdominalis. Pengaruh hormon menyebabkan otot dan tulang rawan di regio toraks melemas sehingga toraks melebar. Penurunan compliance dinding toraks menyebabkan dinding toraks dapat bergerak semakin kedalam sehingga udara yang terperangkap lebih sedikit dan volume residua menurun.
Progesteron menurunkan kepekaan kemoreseptor periver dan sentral untuk karbon dioksida. Hal ini berarti dorongan pernafasan terpicu pada kadar karbondioksida yang lebih rendah sehingga wanita hamil bernafas lebih dalam. Seiring dengan peningkatan kadar progesteron selama kehamilan,peningkatan responsivitas terhadap PCO2
menyebabkan tidal volume dan dengan demikian, volume permenit meningkat.Oleh karena itu, hiperventilasi peningkatan volume alun merupakan hal normal pada kehamilan. Konsumsi oksigen meningkat,tetapi tekanan oksigen arteri tidak berubah.
Pada kehamilan,frekuensi pernapasan tidak berubah tetapi ventilasi per menit meningkat 40 % karena volume alun nafas meningkat. Hal ini sudah mulai tampak disni kehimilan 7 minggu.Hiperventilasi ini melebihi peningkatan kosumsi oksigen. Efisiensi pertukaran gas di alviolus sangat meningkat apabilaa yang meningkat volume alun napas dibandingkan dengan frekuensi pernapasan.Ventialis alviolus semakin ditingkatkan oleh berkurangnya volume residual.Sekitar 150 ml udara inspirasi tetap berada disaluran napas atas dan tidak terjadi pertukaran gas.Walaupun pada kehamilan ruang mati meningkat sebwsar sekitar 60 ml karena dilatasi bronkiolus halus,ventilasi alviolus netto meningkat.Peningkatan volume alun napas berati kapasitas resudual fungsional berkurang sehingga lebih banyak udara segar yang bercampur dengan volume udara sisa yang jumlah semakin berkurang yang tertinggal di paru.Dengan demikian,ventilasi alveolus pada kehamilan meningkat sekitar 70% yang menyebabkan peningkatan efesiensi pencampuran gas sehingga pertukaran gas menjadi lebih mudah karenagradien difusi meningkat. Peningkatan gradien konsentrasi karbon dioksida antara darah ibu dan janin membantu penyaluran karbon dioksida menembus plasenta dan mungkin penting pada keadaan yang merugikan. Progesteron meningkatkan kadar karbonat anhidrase di sel darah merah sehingga efisiensi pemindahan karbon dioksida semakin tinggi .
Tekanan parsial oksigen pada ibu sedikit meningkat dari 90-100 menjadi 101-106 mmHg dan kadar karbon dioksida menurun dari 35-40 mmHg menjadi 26-34 mmHg.peningkatan ringan PO2 tidak banyak berefek pada saturasi hemoglobin.Namun,postur memengaruhi kadar oksigen alveolus posisi terlentang pada akhir kehamilan menyebabkan tekanan oksigen alveolus menurun dibandingakan dengan posisi duduk. Perubahan oksigenasi alveolus ini mungkin kurang bermakna bagi janin walaupun mungkin dapat menjasi kompensasi apabila ibu berada di tempat tinggi. Perjalanan udara dikaitkan dengan peningkatan dispnea dan frekuensi pernapasa. Penurunan kadar karbon dioksida pada kehamilan menyebabkan alkalosis respiratorik ringan. Perubahan pH memengaruhi kadar kation dalam darah, misalnya natrium, kalium, dan kalsium, yang membantu pemindahan melalui plasenta dan meningkatkan pnyediaan bagi prtumbuhan janin. Terjadi kompensasi metabolik berupa peningkatan ekskresi ion bikarbonat oleh ginjal. Penurunan bikarbonat serum menyebabkan pH ibu meningkat ke batas atas rentang fisiologis dari 7,40 menjadi 7,45. Dengan demikian kemampuan ibu untuk mengompensasi asidosis metabolik menurun, yang mungkin menimbulkan masalah pada persalinan lama atau apabila terjadi penurunan perfusi jaringan.
Progesteron memiliki efek lokal pada tonus otot polos jalan napas dan pembuluh darah paru. Kapasitas difusi adalah tingkat kemudahan gas menembus membran paru. Pada awal kehamilan, kapasitas difusi menurun mungkin karena efek estrogen pada komposisi mukopolisakarida dinding kapiler, yang meningkatkan jarak temouh difusi (de swiet, 1998b). Efek ini mungkin berlangsung selama beberapa bulan setelah persalinan. Peningkatan retensi air di jaringan paru juga mengakibatkan penurunan kapasitas difusi. Terjadi peningkatan closing volume yang mengisyaratkan diameter saluran napas kecil berkurang; hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan cairan paru. Penurunan efisiensi pemindahan gas di paru dikompensasi secara parsial oleh relaksasi otot polos bronkiolus yang dipicu oleh progesteron, yang menurunkan resistensi saluran napas. Penurunan resistensi saluran napas berarti aliran udara meningkat. Prostaglandin juga memengaruhi otot polos bronkiolus. Prostaglandin F2α , yang meningkat sepanjang kehamilan, adalah konstriktor otot polos; prostaglandin E1 dan E2, yang meningkat pada trimester ketiga, merupakan dilator otot polos. Bagaimana mereka memengaruhi efisiensi pernapasan pada kehamilan masih belumlah jelas, walaupun apabila digunakan untuk menginduksi abortus terapetik prostaglandin F2α dapat menyebabkan asma pada Wanita yang rentan (kreisman, van de weil, & mitchell, 1975). Usaha/keraj bernapas mungkin tidak berubah karna penurunan resissistensi jalan napas mengompensasi kongesti di kapiler dinding bronkus.
Banyak wanita hamil mengalami dispnea, yang menimbulkan rasa tidak nyaman dan kecemasan, sering pada awal kehamilan sebelum trjadi perubahan dalam tekanan intraabdomen. Hal ini berkaitan berat dengan PCO2 dan mungkin disebabkan oleh hiperventilasi (de swiet, 1998b). Kapiler disaluran napas atas mengalami pembengkakan, yang dapat menimbulkan kesulitan bernapas melalui hidung dan memperparah infeksi saluran napas. Perubahan laring dan edema pita suara yang disebabkan oleh dilatasi vaskular dapat menyebabkan suara serak dan lebih berat, serta batuk menetap. Pada kasus yang berat, perubahan berupa penebalan laring dapat menyebabkan penyulit apabila akan dilakukan intubasi, misalnya pada anestesia. Pada kehamilan, volume ekspirasi paksa pada 1 detik dan laju arus puncak biasanya tidak terpengruh.
Saat persalinan, nyeri menyebabkan peningkatan volume alun napas dan frekuensi pernapasan (efek ini dihilangkan oleh anestesia epidural yang efektif). Pada kala 2, kebutuhan otot menyebabkan asidosis metabolik (peningkatan produksi laktat dan piruvat); hal ini sedikit banyak diimbangi oleh alkalosis respiratorik akibat hiperventilasi (Blackburn, 1992).
Volume dan kapasitas paru
Parameter Definisi Rentang normal Perubahan pada kehamilan
Volume alun napas (tidal volume, TV) Volume bernapas normal saat istirahat 500 ml Meningkat sampai 150-200 ml (25-40%) 75 % meningkat pada trimester pertama
Frekuensi pernapasan (respiratory rate, RR) Jumlah pernapasan permenit 12 kali/menit Tidak berubah/sedikit meningkat menjadi 15 kali/menit
Volume per menit (minute volume, MV) Udara total yang dihirup dalam satu menit pernapasan
(= TV x RR) 6000 ml/menit

6,5 l/menit Meningkat sekitar 40%

10 l/menit
Volume cadangan inspirasi (inspiratory reserve volume, IRV) Volume udara yang dapat diinspirasi di atas volume alun napas 3100 ml Tidak berubah
Volume cadangan ekspirasi (expiratory reserve volume, ERV) Volume gas yang dapat di ekspirasi selain volume alun napas 1200 ml Menurun secara progresif dari awal kehamilan menjadi sekitar 1100 ml
Volume residual (residual volume, RV) Voleme gas yang tertinggal di paru setelah ekspirasi maksimum 1200 ml Menurun secara prgresif
Kapasitas paru total (total lung capacity. TLC) Volume maksimum paru
(=TV +IRV+ ERV+ruang mati) 6000 ml Tidak berubah
Kapasitas vital (vital capacity, VC) Volume total gas yang dapat masuk-keluar paru (= TLC – volume volume residual) 4800 ml Meningkat 100-200 ml pada akhir kehamilan ? tidak jelas pada wanita gemuk) ??? tidak berubah
Kapasitas inspirasi Kemampuan inspirasi total paru (= IRC+TV) 2200 ml Meningkat menjadi sekitar 2500 ml pada aterm
Kapasitas residual fungsional (functional residual capacity, FRC) Volume gas yang tertinggal di paru setelah bernapas biasa (=ERV+RV) 2800 ml Menurun secara progresif menjadi 2300 ml – meningkatkan efisiensi pencampuran
Volume residual (residual volume, RV) Volume gas yang tertinggal setelah ekspirasi maksimum
(= FRC-ERV) 2400 ml
Ruang mati fisiologis Meningkat sekitar 60 ml
Ventilasi alveolus Perbedaan antara TV dan volume ruang mati fisiologis Meningkat

2.6. sistem pernapasan pada masa nifas
Penurunan konsentrasi progesteron setelah pengeluaran plasenta memulihkan sensitivitas tubuh terhadap karbondioksioda sehingga tekanan parsial karbondioksida kembali kekadar prahamil. Diafragma dapat meningkatkan jarak gerakannya setelah uterus tidak lagi menekannya sehingga ventilasi lobus-lobus basal paru dapat berlangsung penuh. Complkiance dinding dada, volume alun nafas,dan kecepatan penapasan kembali ke normal dalam satu sampai tiga minggu.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pernafasan ( respirasi) merupakan suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur sekalipun karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf autonom.
Adapun anatomi dari sistem pernapasan itu meliputi hidung(nasal), faring(tekak), laring(pangkal tenggorokan), trakea(batang tenggorokan), bronkus(cabang tenggorokan), alveoli, paru-paru dan pleura.
Menurut tempat terjadinya pertukaran gas, maka pernapasan dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu pernapasan dalam dan pernapasan luar. Pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh, sedangkan pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler.
Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam inspirasi dan ekspirasi maka mekanisme pernapasan terbagi menjadi dua, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot tulang rusuk, sedangkan pernapasan perut adalah pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktifitas otot- otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada.
Alat- alat pernapasan merupakan organ- organ tubuh yang sangat penting. Jika alat- alat ini terganggu karena penyakit atau kelainan maka proses pernapasan akan terganggu, bahkan dapat menyebabkan Kematian. Kelainan –kelainan itu diantaranya influenza(flu), asma (sesak napas), tuberkulosis(TBC), asfiksi, asidosis, difteri, emfisema , pnemonia, wajah adenoid( kesan wajah bodoh, kanker paru-paru dan juga peradangan yang meliputi rinitis, faringitis, laringitis, bronkitis dan sinusitis.

3.2 SARAN
Respirasi atau pernapasan merupakan proses yang penting bagi tubuh kita, apabila salah satu organ mengalami kerusakan maka akan mengganggu proses pernapasan.
Salah satu penyebab gangguan yang paling vital adalah rokok, karena didalam rokok banyak terkandung zat yang berbahaya seperti nikotin,dan lain sebagainya. Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran pernapasan dan jaringan paru- paru. Misalnya, sel mukosa membesar (disebuthipetrofi ) dan kelenjar mucus bertambah banyak (disebuthiperplasia).
Akibat perubahan anatomi saluran pernapasan akan timbul perubahan fungsi paru- paru. Merokok merupakan penyebab utama timbulnya penyakit obstruksi paru menahun (POPM ), termasuk emfisema (pembengkakan paru- paru ), bronkitiskronis, dan asma. Dan rokok lebih berbahaya bagi perokok pasif daripada perokok aktif, karena asap yang dihirup oleh perokok pasif lebih banyak mengandung zat –zat yang berbahaya.

Oleh karena itu, marilah mulai sekarang kita jaga kesehatan organ pernapasan paru-paru dan sistem pernapasan dengan makan-makanan yang sehat, perbanyak minum air putih, berolahraga yang cukup dan jangan merokok, dan makan teratur.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad. 2003. Kamus Lengkap Kedokteran Edisi Revisi. Gitamedia Press-Surabaya.
http://ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN « Fraxawant’s.html
http://Jenis Pernafasan dan Mekanisme Pertukaran Gas « Guru NgeBlog.htm

http://kelainan-dan-penyakit-pada-sistem.html

http://kelainan-gangguan-penyakit-sistem-pernapasan-respirasi-manusia-kesehatan-pada-masyarakat.html

http://Macam-Macam Gangguan pada Sistem Pernapasan Manusia _ SmartClick.html.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s